Yoseph Ikanubun bersama Ahmad Taufik saat pelaksanaan Festival Media AJI di Bandung, OKtober 2012.
Yoseph Ikanubun bersama Ahmad Taufik saat pelaksanaan Festival Media AJI di Bandung, OKtober 2012.

24 Tahun AJI, dan Kisah Jurnalis Melawan Orde Baru

Oleh: Yoseph Ikanubun*

SUATU malam di bulan Oktober 2012. Acara diskusi dalam rangkaian kegiatan Festival Media (Fesmed) Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia baru saja selesai untuk sesi hari itu. Seorang pria berkulit agak gelap, berkumis tebal datang menghampiri kami. Dia sangat ramah. Hampir semua anggota AJI yang datang dari berbagai kota memberi hormat kepada laki-laki berperawakan tinggi itu. Dari beberapa kawan, kami akhirnya tahu bahwa dia adalah Ahmad Taufik.

Malam itu Ahmad Taufik mengantar kami berkeliling kota Bandung dengan mobil warna putihnya. Tak ada jarak di antara kami, seolah sudah saling kenal sekian lama. “Kalau ke Bandung, jangan lupa cicipi ronde. Ini minuman penghangat tubuh,” ujar Ahmad Taufik mengakhiri petualangan kami di malam itu.

Ahmad Taufik memang begitu melegenda di dunia pers Indonesia. Bahkan saat dia berpulang menghadap Yang Kuasa, Kamis 23 Maret 2017, kabut duka melingkupi kalangan jurnalis.

Tak heran memang, karena pria yang akrab disapa Ate ini memang punya jasa besar bagi dunia jurnalisme di Indonesia. Bersama 100 jurnalis, kolumnis, dan aktivis, dia ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, 24 tahun silam.

AJI lahir sebagai perlawanan komunitas pers Indonesia terhadap kesewenang-wenangan rejim Orde Baru. Mulanya adalah pembredelan Detik, Editor dan Tempo, 21 Juni 1994. Ketiganya dibredel karena pemberitaannya yang tergolong kritis kepada penguasa. Tindakan represif inilah yang memicu aksi solidaritas sekaligus perlawanan dari banyak kalangan secara merata di sejumlah kota.

Setelah itu, gerakan perlawanan terus mengkristal. Akhirnya, sekitar 100 orang yang terdiri dari jurnalis dan kolumnis berkumpul di Sirnagalih, Bogor, 7 Agustus 1994. Pada hari itulah mereka menandatangani Deklarasi Sirnagalih.

Sejumlah nama yang ikut menandatangani deklarasi itu antara lain, Goenawan Mohammad, Andreas Harsono, Satrio Arismunandar, Bambang Harimurty, Aristides Katopo, Eros Jarot, dan Ayu Utami.

Inti deklarasi ini adalah menuntut dipenuhinya hak publik atas informasi, menentang pengekangan pers, menolak wadah tunggal untuk jurnalis, serta mengumumkan berdirinya AJI.

Pada masa Orde Baru, AJI masuk dalam daftar organisasi terlarang. Karena itu, operasi organisasi ini di bawah tanah. Roda organisasi dijalankan oleh dua puluhan jurnalis-aktivis. Untuk menghindari tekanan aparat keamanan, sistem manajemen dan pengorganisasian diselenggarakan secara tertutup. Sistem kerja organisasi semacam itu memang sangat efektif untuk menjalankan misi organisasi, apalagi pada saat itu AJI hanya memiliki anggota kurang dari 200 jurnalis.

Leave a Reply