You are currently viewing Alur Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 Dipersingkat
Ilustrasi.

Alur Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 Dipersingkat

JAKARTA, publikreport.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mempersingkat alur pelaksanaan vaksinasi yang tadinya terdiri dari empat meja menjadi dua meja. Sebelumnya, peserta vaksinasi harus melewati empat meja, yakni pendaftaran dan verifikasi data, penapisan kesehatan, penyuntikan vaksin dan tahap observasi.

“Tadinya prosesnya empat meja menjadi dua meja, dan waktu tunggunya bisa 15 menit,” kata Menter Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikan, usai mengikuti rapat terbatas mengenai penanganan pandemi Covid-19 (Coronavirus Disese 2019) yang dipimpin Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi), Senin 03 Mei 2021, di Jakarta.

Percepatan pelaksanaan vaksinasi, Budi mengatakan, terus diupayakan. Hingga April vaksinasi telah mencapai 20 juta suntikan.

“Selama mutasinya masih sedikit yang variant of concern (mutasi dari India, Afrika Selatan, dari Inggris), itu adalah saat yang tepat untuk kita sesegera mungkin melakukan vaksinasi untuk melindungi diri kita dan keluarga kita. Oleh karena itu, bulan ini tolong didorong vaksinasinya walaupun puasa dan Lebaran karena memang sudah diizinkan,” jelasnya.

Guna mempercepat pelaksanaan vaksinasi, Budi mengungkapkan, pemerintah kembali akan mendatangkan vaksin Covid-19, melalui kerja sama multilateral fasilitas Covax dari Gavi.

“Bulan (April) ini kita sudah kedatangan 3,8 juta vaksin AstraZeneca dari program GAVI yang gratis. Rencananya akan datang lagi sekitar 1,8 juta vaksin AstraZeneca yang gratis, sehingga totalnya ada 5,6 juta,” ungkapnya.

Dengan bahan baku vaksin Sinovac yang sudah tiba di Tanah Air, menurut Budi, Bio Farma juga akan memproduksi sekitar 18 juta vaksin pada bulan ini.

Jika pada masa awal vaksinasi diperlukan waktu sekitar 2 bulan untuk mencapai 10 juta suntikan, Budi mengatakan, saat ini hanya diperlukan waktu 1 bulan untuk mencapai jumlah yang sama.

“Kita mulai dari Januari, menembus 10 juta suntikan itu tanggal 26 Maret, hampir dua bulan. Sekarang satu bulan, dengan segala keterbatasan, kita tetap bisa menembus 10 juta suntikan atau sekitar 12,5 juta rakyat Indonesia sudah diberikan vaksinasi yang pertama,” ujarnya.

Mendorong percepatan vaksinasi untuk mencapai kekebalan komunitas (herd immunity), selain program vaksinasi yang tengah berjalan pemerintah juga mendorong percepatan pelaksanaan vaksinasi dengan skema vaksin gotong royong. Pelaksanaan vaksinasi dengan skema ini, menurut Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian, Airlangga Hartarto selaku Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), dilakukan berdasarkan zonasi risiko atau risiko wilayah.

“Tadi dilaporkan mengenai vaksin gotong royong serta prioritas berbasis zonasi dan juga berbasis kepada perusahaan-perusahaan yang telah mendaftarkan di Kadin (Kamar Dagang dan Industri), dan tentunya berbasis kepada jenis industrinya, yang diutamakan padat karya,” ujarnya.

Pekerja yang memiliki KITAS (Kartu Izin Tinggal Terbatas) ataupun KITAP (Kartu Izin Tinggal Tetap), Airlangga mengatakan, juga dapat mengikuti skema vaksin gotong royong. Disampaikannya, vaksin yang akan digunakan dalam skema ini adalah vaksin Sinopharm dan CanSino.

“Ada 7,5 juta (dosis vaksin) Sinopharm, itu yang sudah binding ditargetkan sampai bulan Juli, opsinya 7,5 juta. Dan ada 5 juta (dosis vaksin) CanSino yang sedang dalam proses. Kementerian Kesehatan akan menerbitkan Permenkes (Peraturan Menteri Kesehatan) terkait harga vaksin gotong royong,” jelasnya.

Leave a Reply