Kontrakan lokasi pasangan ditelanjangi dan dianiaya warga. (Foto: Detik)
Kontrakan lokasi pasangan ditelanjangi dan dianiaya warga. (Foto: Detik)

Ancaman Pidana Bagi Pelaku Persekusi di Cikupa

Oleh: Yudha Herlangga*

BARU-baru ini viral di media sosial tentang sejumlah orang di daerah Cikupa, Tangerang yang telah menganiaya dan melucuti pakaian pasangan yang diduga berbuat asusila di kontrakannya. Berdasarkan berita di media online, pasangan tersebut dipaksa mengaku berbuat asusila dan juga di arak keliling kampung dengan kondisi tidak berpakaian lengkap.

Di Indonesia, tindakan “main hakim sendiri” atau disebut juga persekusi, cukup banyak contoh kasusnya bahkan hal ini sudah jauh terjadi beberapa tahun belakang, dimana orang-orang yang diduga mencuri, begal, dan berbuat asusila di “hakimi” oleh warga seolah-olah tidak peduli dengan proses hukum yang seharusnya.

Masih ingat beberapa bulan lalu, seorang laki-laki meninggal dunia karena warga menuduhnya melakukan pencurian amplifier mesjid, yang kemudian dibakar hingga meninggal. Pertanyaanya, apakah laki-laki tersebut terbukti bersalah? Bukankah secara hukum seseorang tidak dapat dinyatakan bersalah sampai adanya putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap yang menyatakan dirinya bersalah?

Kembali kepada kejadian persekusi di Cikupa, kejadian ini bahkan lebih memprihatinkan karena tidak hanya menganiaya pasangan yang diduga berbuat asusila, tetapi juga melucuti pakaian serta mengarak pasangan itu keliling kampung seolah-olah ingin mempertontonkan aurat dari pasangan tersebut.

Jelas ini pun melanggar beberapa ketentuan perundang-undangan di Indonesia yaitu larangan tentang pelecehan seksual dan pornografi termasuk melanggar Undang-Undang Informasi dan Teknologi (UU ITE) bagi penyebar video yang belakangan viral di media sosial.

Penganiayaan

Tindakan persekusi dengan cara-cara penganiayaan jelas melanggar ketentuan Pasal 170 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), yang berbunyi “Barang siapa dengan terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap orang atau barang, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan”.

Leave a Reply