PUBLIKREPORT.com

Bagaimana Forbidden City Dibangun?

Photo credit: Beijing via photopin (license)/tahukahkamu.org

INGIN ARTIKEL DIBACAKAN: https://publikreport.com

Selain dikenal dengan tembok besarnya, China juga memilki satu tempat wisata yang tidak kalah megahnya, yaitu Kota Terlarang atau Forbidden City, yang menempati area sekitar 72 hektar dan terletak di daerah kota kerajaan tua di Beijing. Posisinya berhadapan dengan lapangan Tienanmen dan Chang An Avenue. Dalam bahasa China kota ini disebut Zijin Cheng yang artinya Kota Terlarang Unggu. Disebut kota terlarang karena dulunya tertutup oleh masyarakat umum.

Sebelum menjadi museum dan tempat wisata, Kota Terlarang awalnya merupakan istana kerajaan bagi 24 kaisar dan keluarganya dari Dinasti Ming dan Dinasti Qing. Kaisar terakhir yang tinggal di Kota Terlarang adalah Kaisar Pu Yi, ia diusir dari Kota terlarang pada tahun 1924 oleh Jenderal Feng Yuxiang.

Komplek Kota terlarang terdiri lebih dari 980 bangunan dan lebih dari 8.000 ruangan, mulai dari Pintu Gerbang Harmoni. Dibangun sekitar tahun 1.406 oleh Kaisar Yongle dari Dinasti Ming, kostruksi berjalan selama 15 tahun dan dikerjakan lebih dari 100.000 ahli dan jutaan pekerja. Melihat kemegahan Kota terlarang timbul pertanyaan, kira-kira untuk pembangunannya, bagaimana para pekerja bisa mengangkut batu-batu ukiran yang besarnya bisa mencapai 123 ton?

Berdasarkan naskah kuno yang diterjemahkan oleh Jiang Li (University of Science and technology Beijing) para ahli sejarah mengungkapkan bahwa pembangunan ini mengandalkan jalan raya es sepanjang 70 km sebagai transportasi untuk mengangkut batu-batu dari tambang ke lokasi. Pada musim dingin, jalan setapak akan dilumasi dengan air agar dapat dilintasi oleh kereta luncur yang membawa batu-batu tersebut.

Para pekerja membangun sumur-sumur air di sepanjang jalan, agar airnya bisa dihangatkan dan disiramkan ke lapisan es di jalan. Dengan cara seperti ini, menurut kalkulasi para ahli akan dibutuhkan 46 orang untuk menarik batu seberat 123 ton. Jika tidak memakai air hangat, akan dibutuhkan 338 orang untuk menarik beban yang sama.

The Last Emperor’

Pu Yi. (Image: Common Wikipedia/tahukahkamu.org)

Pu Yi, merupakan Kaisar Cina terakhir dari Dinasti Qing. Ia naik tahta ketika berumur 2 tahun 10 bulan dan menyerahkan tahtanya (Revolusi Xinhai) pada 12 Februari 1912 saat berumur 6 tahun. Pu YI dilahirkan pada 7 Februari 1906, kakeknya bernama Yihuan adalah anak ke-7 dari kaisar Daoguang dan ayahnya Zaifeng adalah adik dari Kaisar Guang Xu. Setelah kematian Kaisar Guang Xu tanpa ahli waris, Pu Yi diangkat menjadi kaisar dengan nama kekaisaran Xuan Tong.

Pada saat memerintah, Dr. Sun Yat Sen melakukan revolusi tahun 1911 dan mengakhiri masa pemerintahan monarki Kekaisaran Cina yang sudah berlangsung lebih dari 2000 tahun. Setelah meyerahkan tahtanya, ia masih diijinkan untuk tinggal di daerah yang sekarang disebut Kota Terlarang.

Di tahun 1917, Ia sempat mengalami restorasi masa pemerintahannya, dibantu oleh Jenderal Zhang Xun, namun diperiode singkat tersebut (dari 1 Juli – 12 Juli) harus berakhir karena banyak Jenderal yang tidak setuju. Ia juga sempat kembali berkuasa pada masa berdirinya negara boneka buatan Kekaisaran Jepang “Manchukuo” tahun 1932. Kaisar Manchukuo ini mendapat gelar kekaisaran “Kangde”. Ia berkuasa hingga selesai Perang Cina-Jepang kedua, tahun 1945. Selama itu ia tinggal di Istana yang di sediakan oleh Jepang (Saat ini menjadi Museum Istana Kekaisaran Negara Manchu).

Pu Yi memiliki 3 adik kandung laki-laki dan 3 adik kandung perempuan, yang paling tua bernama Pujie, yang menikah dengan Hiro Saga, seorang Jepang, sepupu jauh dari Kaisar Jepang Hirohito. Pernikahan ini sebenarnya sudah diatur untuk kepentingan politis oleh Shigeru Honjō, jenderal Tentara Kwantung. Pujie ditetapkan menjadi pewaris sah kekaisaran Manchu jika Pu Yi tidak memiliki keturunan laki-laki.

Pada akhir Perang Dunia II, ia ditangkap oleh Tentara Merah Soviet, saat berada di pesawat terbang di Mukden airport ketika hendak menuju Jepang melalui Korea. Selanjutnya ia sempat ditahan di Siberia, Rusia dan pada tahun 1949, saat China di bawah pimpinan Mao Zedong, Pu Yi dipulangkan ke China. Ia tinggal selama 10 tahun di Pusat Manajemen Penjahat Perang Fushun di provinsi Liaoning sampai ia dinyatakan berhasil direformasi dan bebas.

Dari tahun 1964 hingga akhir kematiannya di Beijing, ia bekerja sebagai seorang editor untuk departemen literasi Konferensi Konsultatif Politik Rakyat China. Ia meninggal pada 17 Oktober 1967 saat berumur 61 tahun karena komplikasi kanker ginjal dan penyakit jantung yang sudah lama dideritanya. (sari berbagai sumber) | TAHUKAHKAMU.org

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Distribusi dan Vaksinasi Covid-19 di Kotamobagu Berjalan Lancar

Read Next

ODSK Kerahkan Puluhan Truk Bersihkan Sampah di Manado