Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy pada lokakarya bertema ‘guru milenial: sebuah profesi di masa depan’ memperingati Hari Guru se-Dunia, di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan , Kamis 10 Oktober 2019.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy pada lokakarya bertema ‘guru milenial: sebuah profesi di masa depan’ memperingati Hari Guru se-Dunia, di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan , Kamis 10 Oktober 2019.

Bicara SDM Unggul, Mendikbud: Prioritaskan Guru

PENDIDIKAN

JAKARTA, publikreport.com – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy mengingatkan pentingnya profesionalisme guru untuk mewujudkan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul. Menurutnya, guru adalah kata kunci untuk meningkatkan SDM.

“Kalau saya ditanya, di pendidikan apa yang harus pertama diprioritaskan? Menurut saya adalah guru. Karena guru inilah kuncinya. Kita tidak mungkin berbicara SDM unggul, kalau guru tidak memiliki kapasitas itu,” tegas Muhadjir pada lokakarya bertema ‘guru milenial: sebuah profesi di masa depan’ memperingati Hari Guru se-Dunia, di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan , Kamis 10 Oktober 2019.

“Karena itu di akhir masa jabatan, saya fokus ke guru,” sambungnya.

Guru profesional, Muhadjir menjelaskan, terdapat tiga indikator, yakni keahlian, tanggung jawab sosial, dan rasa kebanggaan bersama. Sebagai pekerjaan profesional, profesi guru menuntut keahlian tertentu yang diperoleh dari pendidikan dan pelatihan dalam waktu yang cukup lama dengan tingkat kesulitan yang sangat tinggi.

“Tidak ada yang bisa mengerjakan pekerjaan itu kecuali mereka yang belajar dan terlatih cukup lama. Itu baru namanya pekerjaan profesional. Kalau ada pekerjaan tidak perlu sekolah lama-lama, atau juga tingkat kesulitan tidak terlalu tinggi, sehingga hampir semua orang bisa melaksanakan, maka itu bukanlah profesi,” jelasnya.

Setiap guru, Muhadjir berharap, kiranya dapat memahami tanggung jawab sosial yang menempel pada profesinya. Dampak pekerjaan seorang guru tidak hanya bersifat pribadi, melainkan sifatnya publik. “Misalnya guru itu mengajari anak salah, maka yang menderita nanti bukan hanya anak yang salah itu, tetapi semua orang yang berelasi dengan anak itu,” ujarnya.

BACA JUGA: Tak Lagi Terima TKD, Guru SMA/SMK Sangihe Mengeluh

Guru, Muhadjir melanjutkan, juga perlu membangun asosiasi profesi berbasis kesejawatan. “Seorang profesional pasti selalu berhubungan dengan sesama koleganya, sejawatnya, seprofesinya untuk saling tukar pengalaman berbagi pengalaman terhadap profesi yang dilakukan. Di situlah pentingnya asosiasi profesi. Jadi itulah mengapa di dalam Undang-Undang (UU) Guru dan Dosen harus bergabung dengan asosiasi profesi,” terangnya.

BACA JUGA: Jokowi: Guru Harus Lebih dari Mengajar

Kepada guru-guru yang masih berstatus honorer dengan gaji yang relatif kecil, Muhadjir berpesan, agar tidak berkecil hati. Apalagi sampai menganggap rendah dirinya sendiri. “Tentang kedudukan guru honorer, bagaimana kita membangun kepercayaan diri di depan kelas, percaya bahwa profesi guru disegani,” tegasnya.

Untuk meningkatkan kesejahteraan guru, khususnya kejelasan status guru honorer yang telah cukup lama mengabdi, Muhadjir mengatakan, terus diupayakan pemerintah.

BACA JUGA: Anggaran Pendidikan Meningkat, Bambang: Kualitas Perguruan Tinggi Jadi Tantangan

“Pak Dirjen GTK dengan pak Dirjen Perimbangan Keuangan sedang bekerja keras memastikan. Mudah-mudahan mulai tahun depan (gaji) guru honorer tidak diambilkan dari BOS (Bantuan Operasional Sekolah), tetapi dari DAU (Dana Alokasi Umum),” ungkapnya.

Leave a Reply