Ki Hadjar Dewantara (kiri), Douwes Dekker (tengah) dan Tjipto Mangoenkoesoemo (kanan) mengenakan pakaian bergaya eropa. (Foto: Wikicommon)
Ki Hadjar Dewantara (kiri), Douwes Dekker (tengah) dan Tjipto Mangoenkoesoemo (kanan) mengenakan pakaian bergaya eropa. (Foto: Wikicommon)

Pakaian dan Gaya Hidup Revolusioner di Zaman Hindia Belanda

BEBERAPA cara ditempuh para aktivis pergerakan antikolonial – yang dinilai membangkang – untuk mengisi waktu selama dipenjara oleh pemerintah Hindia Belanda. Salah satunya adalah menulis.

Saat Marco Kartodikromo, seorang jurnalis yang saat itu masih menjadi anggota Sarekat Islam afdeeling Surakarta, mendekam di penjara Waltervreden, Batavia pada 1917-1918, dia memutuskan menulis sebuah novel berjudul Student Hidjo. Novel yang ditulis dalam bahasa Melayu itu menceritakan perjalanan seorang bumiputera bernama Hidjo merantau ke negeri Belanda guna belajar di Institut Teknologi Delft.

Rudolf Mrazek, dalam Engineers of Happy Land, menggambarkan Student Hidjo sebagai kisah gaya hidup orang pribumi modern. Laki-laki itu diceritakan mengenakan celana panjang, jas, dasi, beserta dua pena terselip di saku jasnya. Modernitas gaya hidup Hidjo pun tidak hanya soal penampilan. Selama di Belanda, Hidjo makan dari satu restoran ke restoran lainnya, menonton teater, piknik, dan naik trem.

Di sebuah hotel, Hidjo dilayani seorang pelayan Belanda. “Mas Marco akan menyebutnya ‘pelayan’ (budak dalam bahasa Melayu), dan kita boleh menduga dengan aman ia mengenakan seragam pelayan,” sebut Mrazek.

Sekilas kehidupan Hidjo tampak biasa, layaknya mahasiswa Indonesia penerima beasiswa LPDP yang berkesempatan, selain kuliah, juga mengunjungi tempat-tempat eksotis di negera-negara Eropa. Namun sesungguhnya ada muatan revolusioner yang tergambar dalam gaya hidup Hidjo di Eropa — khususnya melihat konteks diskriminasi yang diterima kaum bumiputera pada masa itu karena pakaian yang mereka kenakan.

Dalam “Sarung, Jubah, dan Celana: Penampilan sebagai Sarana Pembedaan dan Diskriminasi”, Kees van Dijk membeberkan penggalan artikel Kaoem Moeda edisi 25 September 1917 yang memuat pengalaman seorang jurnalis bernama Keok yang memesan minuman dan makanan di sebuah gedung bioskop.

Awalnya Keok datang mengenakan pakaian khas bumiputera. Ia memesan segelas air jeruk kepada pelayan yang merupakan orang lokal. Namun si pelayan menolak permintaan Keok dan sejurus kemudian melayani orang-orang Eropa. Penasaran, Keok pun datang lagi ke bioskop itu. Kali ini dia mengenakan pakaian ala Eropa. Hasilnya, Keok langsung dilayani.

Dalam artikel yang sama, van Dijk mengisahkan Margono Djojohadikusumo, kakeknya Prabowo Subianto. Saat menempuh studi di Europeesche Lagere School (ELS) pada 1901, Margono ingat, para pelajar Jawa, masih berpakaian kain batik, jas tutup, dan tanpa alas kaki. Cara berpakaian seperti itu kerap dicemooh oleh kepala sekolahnya, sedangkan oleh siswa Indo-Eropa mereka disebut “pribumi kotor”.

“Sering kali mereka bahkan berkulit lebih cokelat daripada saya. Perbedaannya hanyalah bahwa mereka memakai sepatu dan menyandang nama Belanda,” sebut Margono.

Leave a Reply