Bernard Willhelm Lapian.
Bernard Willhelm Lapian.

Bernard Willhelm Lapian

Nama     : Bernard Willhelm Lapian
TTL         : Kawangkoan, 30 Juni 1892
TTM        : Jakarta, 5 April 1977

  • Tahun 1945 sebagai anggota Panitia Badan Persiapan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (BPPKI) di Tondano
  • Tahun 1945-1946 sebagai Kepala Distrik Manado
  • Tahun 1946 dalam Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 sebagai Kepala Pemerintahan Sipil Sulawesi Utara yaitu Residen Manado yang meliputi Sulawesi Utara & Tengah.

Pada dini hari tanggal 14 Februari 1946, diadakanlah sebuah kudeta tidak berdarah yang dipelopori oleh anggota KNIL (Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger) atau Tentara Hindia Belanda dalam Kompi VII di markasnya Tangsi Teling. Para pemimpin aksi ini sebenarnya telah ditangkap pada tanggal 13 Februari, yaitu sehari sebelumya yaitu Fourir Ch Ch Taulu, Sersan SD Wuisan, Wangko Sumanti, dan lain-lain. Selain itu dilakukan pelucutan peluru-peluru dalam markas di Tangsi Teling serta diberlakukannya konsinyasi secara tiba-tiba terhadap Kompi VII.

Pada pagi dan siang harinya diadakan perebutan kekuasaan di kamp 8000 tawanan orang Jepang di Wangurer Bitung, lalu di Tomohon, Tondano, dan beberapa kota di Minahasa lainnya.

Setelah Komandan KNIL Letkol (Letnan Kolonel) BP de Vries dan Co-NICA, Coomans de Ruyter menyerah kepada para pelaku kudeta maka pada malam harinya atas prakarsa dari BW Lapian sebagai Kepala Distrik Manado yang telah mengetahui terlebih dahulu berita berhasilnya kudeta, diadakanlah konsultasi pertama kalinya antara unsur militer dan sipil dalam sebuah rapat yang diadakan di tempat tinggal sementara dari BW Lapian di daerah Singkil, Manado Utara.

Leave a Reply