Dolf Runturambi.
Dolf Runturambi.

Tokoh Penting Dibalik Kiprah ‘Permesta Yard’

Nama     : Mayor Inf (Purn) Dolf Runturambi
TTL         : Tondano, 20 Agustus 1920
Agama   : Kristen Protestan

Pendidikan:

  • Holland Inlandsche School (HIS)
  • Meer Uitgrebreid Lager Onderwijs (MULO)
  • Kotabu Kain Yo Seijo, Makasar (1944)
  • Militairy Intelegence & Security Training Course, Maresfield Camp, Southampton, Inggris (1951)
  • Scotland Yard London, Inggris
  • Military Police School Center, Sandhurst, Inggris (1951)
  • Communist & anti-comunnist for Military Course, War College London, Inggris (1952)
  • Sekolah Atase Militer, Cililitan/Kemayoran, Cimahi/Bandung (1952-1953)
  • Sekolah Staf & Komando Angkatan Darat (SSKAD), Angkatan IV (1954-1955)

Karier:

  • Instruktur Sekolah Pelayaran Angkatan Laut Jepang, Probolinggo (1945)
  • BKR Laut
  • Komandan BKR Laut, Probolinggo (1946)
  • Wakil Kepala Staf Umum Markas Tertinggi ALRI, Lawang, Jatim (April 1946)
  • Asisten I Staf Komando Divisi VI (Juli 1946)
  • Asisten I (Seksi Intel/Security) & Ka.Biro Navigasi Staf Komando ALRI Pangkalan X, Situbondo, Jatim (Oktober 46)
  • Kepala Staf Pangkalan IX ALRI, Probolinggo (Juli 1947)
  • Liaison Officer pemindahan ex Brigade XVI ke Jakarta (1949-1952)
  • Kepala Seksi I Stafko TT-VII/TTIT bidang Intel/Security
  • Kepala Biro III/Pengawasan Bangsa Asing (Biro Luar Negeri) SUAD I/MBAD (1952-1955)
  • Komandan Bn. Inf. 714, Sulawesi Utara (1955-1957)

Permesta:

  • Kepala Staf Gubernur Militer Sulawesi Utara (KDM-SUT) Permesta (1957-1958)
  • Komandan Resimen Infanteri Ular Hitam KDM-SUT (Oktober 1957)
  • Komandan Resimen Team Pertempuran (RTP) Ular Hitam/Sektor I-Sulawesi Utara (KDM-SUT) untuk PRRI, Tomohon
  • Panglima Komando Daerah Pertempuran III Wilayah Bolaag Mongondow-Gorontalo (pangkat Letkol), Kotamobagu (1958-1960)
  • Asisten KSAD (ADREV) PRRI, Kotambunan/Bolmong
  • Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP) Permesta (1960-1961).

DISKURSUS terkait posisi gerakan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) terhadap kedaulatan Republik Indonesia (RI) belum berakhir di satu titik. Sejumlah pihak masih mengganggap gerakan yang dipimpin Kolonel HN Ventje Sumual ini sebagai aksi ilegal atau kudeta. Misalnya, pendapat sejarawan Belanda WF Wertheim, dalam bukunya ‘Indonesian Society in Transition’ (1959).

Leave a Reply