Dr Dra Benedicta J Mokalu MSi.
Dr Dra Benedicta J Mokalu MSi.

Orang Terhormat

Oleh: Dr Dra Benedicta J Mokalu MSi*

AGAMAWAN dan Politisi sejatinya adalah profesi sangat terhormat di negeri ini. Mereka merupakan sumber inspirasi dan sumber berkat bagi bangsa ini. Sejak zaman perjuangan hingga kini, suara mereka didengar, kata-kata mereka jadi acuan kebijakan pemerintah, perilaku mereka ditiru banyak orang, sebagai kekuatan penekan lawan politik bahkan mampu menaklukan ‘politk keberagaman.’

Semua ini telah tersaji sangat apik ketika berlangsung Pilkada DKI Jakarta. Menyikapi hiruk pikuk Pilkada DKI Presiden Jokowi blusukan menemui ‘Orang Terhormat’ yakni tokoh-tokoh agama dan tokoh-tokoh politik. Untuk apa? Berbincang-bincang masalah bangsa, mencegah disintegrasi bangsa lalu dilanjutkan dengan makan bersama di Istana.” Mengapa demikian?

Pertama, Jokowi meneguhkan kembali bahwa inilah alam Indonesia yang selalu menaruh rasa hormat kepada Orang Terhormat. Predikat terhormat dari sisi pendekatan sosiologis lebih sebagai bentuk pengakuan masyarakat (sosial) akan semua citra suksesnya sepanjang proses interaksi. Idealnya,mereka adalah orang yang sudah lulus ujian dalam proses bersejarah, punya kemampuan, punya daya tahan uji menghadapi perubahan sosial.

Kedua, bangsa ini masih menaruh ‘berjuta harapan’ agar Orang Terhormat masih tetap menjadi cermin dalam tutur kata dan tindakan. Tak heran kepada mereka dikenakan berupa kata-kata dengan muatan sangat ideal, seperti; manusia super, mampu mengotrol tutur kata dengan sangat terukur, punya tingkat kepekaan sangat tinggi, sebagai negarawan sejati, punya sistem filterisasi terhadap godaan sehingga tahan uji, sangat tidak pantas jadi pesakitan apalagi harus masuk bui.

Hanya saja kadang-kadang Orang Terhormat tersebut terbuai dengan semua bentuk sanjungan dan bergelimpahan berkat yang membuatnya terlena, lupa dengan jati diri, lupa bahwa dirinya masih manusia biasa. Kesombongan diri telah menjerat Orang Terhormat sehingga melampaui batas-batas kesadaran dan batas-batas kewajaran dengan mendewakan dirinya.

Padahal, sebagai manusia biasa pada titik tertentu tidak akan mampu mengalahkan semua bentuk dorongan, rangsangan, hawa nafsu atas nama sejumlah uang, serta rupa-rupa bentuk kekilafan lainnya.

Tetapi apa daya, demi menegakkan hukum bahwa semua orang sama di depan hukum, sekalipun Orang Terhormat tersebut pada zamannya punya nama besar, punya pengikut banyak, punya jutaan relawan siap mati sahid.

Leave a Reply