Edi Tri Wiyanto alias Edi Jablay, pendiri pelatihan beladiri Muay Thay di Kota Solo yang sempat menjadi narapidana kasus bom Cirebon 2011. (Foto: Tempo/Ahmad Rafiq).
Edi Tri Wiyanto alias Edi Jablay, pendiri pelatihan beladiri Muay Thay di Kota Solo yang sempat menjadi narapidana kasus bom Cirebon 2011. (Foto: Tempo/Ahmad Rafiq).

Edi Jablay, Dulu Teroris, Kini Pembina Atlet Muay Thay

OLAHRAGA |PUBLIK FIGUR

SOLO, publikreport.com – Pria yang sering disapa Edi Jablay ini sempat dicap teroris karena menjadi narapidana kasus bom Cirebon sebelum menjadi pembina atlet Muay Thay. Tubuhnya tidak terlalu tinggi. Posturnya juga kurus, dengan rambut sedikit gondrong yang selalu ditutupi dengan topi pet warna hitam. Gerakan serta jalannya terlihat cukup gesit.

Nama lengkapnya Edi Tri Wiyanto. Orang lebih mengenalnya dengan sebutan Edi Jablay. Dia merupakan pendiri sekaligus pembina tempat pelatihan beladiri (kamp) Muay Thay di Kota Solo. Saat ini, kamp yang didirikan itu telah mengikuti beberapa pertandingan baik tingkat lokal maupun nasional.

Nama Edi Jablay sendiri sebenarnya mulai banyak dikenal warga Solo sekitar 2011 silam. Namun, bukan dalam pertandingan beladiri. Namanya sering disebut-sebut lantaran ditangkap tim Detasemen Khusus 88 Antiteror lantaran terlibat kasus bom Cirebon. Dia keluar dari LP Pasir Putih Nusakambangan pada 2015 lalu.

Sepulangnya dari ‘perantauan’, Edi bertemu dengan beberapa orang yang memiliki minat yang sama di bidang beladiri yang ditekuninya sejak remaja. “Kami lantas membuat sebuah tempat pelatihan beladiri,” katanya, Sabtu 18 November 2017. Aliran beladiri Muay Thay dipilih lantaran dianggap memiliki teknik yang lebih praktis.

Meski masing-masing telah memiliki dasar beladiri, mereka memilih untuk mengundang pelatih profesional untuk menjadi head coach. Mereka berlatih dua kali dalam sepekan di halaman Masjid Al Wustho Solo. “Pada awalnya peserta latihan ini adalah para ikhwan,” katanya.

Pelatihan tersebut tentunya menarik perhatian aparat keamanan. “Setiap latihan selalu diawasi intel,” katanya. Menurutnya, ada kekhawatiran dari aparat keamanan bahwa latihan beladiri itu berpotensi menjadi ajang kaderisasi gerakan terorisme.

Bahkan, pelatih yang diundang untuk menjadi head coach juga akhirnya sempat mogok dua bulan saat mengetahui bahwa salah satu pendiri kamp itu pernah terlibat kasus terorisme. “Kami berupaya keras meyakinkan pelatih maupun aparat keamanan bahwa latihan ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan terorisme,” katanya.

Mereka pun kini membuat kamp latihan itu menjadi lebih terbuka. Jika sebelumnya kebanyakan peserta adalah remaja masjid, kini mereka lebih membuka diri dengan menerima peserta dari berbagai kalangan. “Bahkan non muslim pun boleh ikut,” katanya.

Nama kamp yang semula Muay Thay Moslem Al Wustho (MMA) juga bertransformasi menjadi Badai Martial Art untuk menunjukkan bahwa mereka sudah semakin terbuka. Mereka juga mengikuti berbagai turnamen yang berskala lokal maupun nasional.

Leave a Reply