Konsul Jenderal Berlian Napitupulu foto bersama warga Indonesia di Batu Ganding, Pulau Balut, bagian paling selatan Mindanao. (Foto: Dok. KJRI Davao City)
Konsul Jenderal Berlian Napitupulu foto bersama warga Indonesia di Batu Ganding, Pulau Balut, bagian paling selatan Mindanao. (Foto: Dok. KJRI Davao City)

100 Warga Keturunan Indonesia di Filipina Resmi Jadi WNI

JAKARTA, publikreport.com – Warga keturunan Indonesia di Filipina akhirnya resmi sebagai WNI setelah berpuluh-puluh tahun mendiami wilayah kepulauan luar negara itu. Lebih dari 100 warga keturunan Indonesia di pulau Balut, Davao, Filipina Selatan, telah ditetapkan statusnya menjadi WNI pada 16 November 2017.

Seperti yang dilansir Al Jazeera pada 19 November 2017, Konsulat jenderal Republik Indonesia di Davao City, Berlian Napitupulu mengumumkan penetapan status WNI kepada warga yang sebagian besar di antaranya tidak bisa berbahasa Indonesia.

Berlian Napitupulu kemudian mencoba mengajak warga keturunan tersebut untuk kembali ke Indonesia, setelah kebijakan pembangunan agresif presiden Joko Widodo dianggap membuahkan hasil. Berlian Napitupulu mengatakan bahwa presiden Joko Widodo atau Jokowi telah membuat 47 prestasi besar, di antaranya adalah proyek infrastruktur besar.

“Indonesia adalah negara yang berubah sekarang. Ada banyak pekerjaan karena belanja publik yang agresif,” katanya, untuk menandakan saat ini adalah waktu yang tepat untuk pulang, seperti dikutip dari Al Jazeera.

Napitupulu bahkan telah menawarkan transportasi laut gratis bagi mereka yang memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Namun banyak di antara penduduk yang awal bulan itu telah mendapatkan status kewarganegaraan itu bingung, terlebih mereka kesulitan berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia.

Ketika berbicara di hadapan sekitar 60 warga keturunan Indonesia di pulau Balut, Filipina, hanya 16 di antaranya yang bisa mengerti bahasa Indonesia, itupun tidak banyak kosakata yang bisa dikuasai. Sisanya tidak berbicara bahasa lain, selain bahasa lokal di pulau Balut Filipina, termasuk Pidinsia Barahama Pareda, yang hanya bisa berbicara bahasa Sangir, bahasa suku bangsa aslinya di Sulawesi.

Pareda tidak ingat berapa umurnya. Yang diketahuinya bahwa dia lahir pada tahun 1960. Selama menjadi masyarakat ilegal di Filipina, dia tidak memiliki akte kelahiran, hanya surat baptis yang diperolehnya dari gereja Katolik setempat.

Pejabat lokal mengatakan orang Indonesia sepertinya tidak dapat mengajukan akta kelahiran karena mereka bukan orang Filipina. Pada hari dia akhirnya menerima akta kelahirannya, dia harus ditemani oleh menantu laki-lakinya, Walter Manabung, 39. Kedua orangtuanya juga telah menetap di pulau itu jauh sebelum dia lahir. Mata pencaharian utama mereka adalah memanen kelapa untuk dijadikan kopra dan melaut, sama seperti kebanyakan orang Sangir di Indonesia.

Menurut penelitian Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa urusan pengungsi atau UNHCR dari tahun 2016, Balut, termasuk Sarangani, adalah dua pulau besar yang merupakan rumah bagi total 8.745 orang keturunan Indonesia.

Mereka adalah generasi ketiga orang Indonesia yang nenek moyangnya, menurut catatan sejarah, berasal dari Kepulauan Sangihe di Sulawesi Utara. Satu kisah umum tentang migrasi mereka ke Filipina adalah ketika nenek moyang nelayan mereka melihat pulau-pulau ini, mereka kembali dari Sangihe dan membawa keluarga mereka bersama mereka. Ini terjadi jauh sebelum Filipina dan Indonesia mulai membangun batasan di antara mereka.

Sejak tahun lalu, lebih dari 3.000 orang keturunan Indonesia di Filipina telah menjadi WNI sesuai Undang-Undang Nomor 12 tahun 2006 tentang Kewarganegaraan RI. | TEMPO.co

Leave a Reply