Joop Warouw.
Joop Warouw.

Joop Warouw

NamaTTL/TTM
Jacob Frederick Warouw alias JoopBatavia, 08 September 1917-Tombatu, (antara 10-15 Oktober 1960

Kolonel Joop Warouw, yang sempat menempuh ilmu di STOVIL alias Sekolah Penolong Injil Pribumi di Tomohon ini sempat diperbantukan pada sebuah unit lampu senter (lampu sorot) tentara Jepang tahun 1940 untuk menghadapi pesawat tempur Sekutu malam hari.

Mulanya, saat diinterogasi tentara Jepang, ia dan temannya mengaku mampu membetulkan lampu sorot dan perkakas lainnya. Setelah ia memperagakan membetulkan peralatan Jepang, akhirnya ia diperbantukan pada sebuah unit lampu senter (lampu sorot).

Padahal sebelumnya ia dan temanya telah mempreteli dan menyembunyikan bout dan komponen kecil itu.

Kemudian tahun 1942-1954 ia menjadi anggota organisasi Hantyo Ittokyu yang disponsori Jepang.

Setelah Perang Dunia ke-2 berakhir, ia menjadi Wakil Pimpinan Bagian Pasukan PERISAI (Pemuda Republik Indonesia Sulawesi) merangkap Kepala Pasukan setingkat regu.

Lalu menjadi Kepala Barisan PRI Sulawesi (PERISAI) pada tanggal 9 Oktober 1945. PERISAI ini juga dikenal dengan nama KRIS Surabaya. Ia menjadi salah satu Komandan Regu Barisan Istimewa PERISAI bersama-sama dengan Yus .Somba, Utu’ Lalu, Kembi H.V.Worang. Yang merupakan pasukan elit KRIS Surabaya.

  • Tahun 1946: Ia menjadi Wakil Komandan dan Kepala Staf Divisi VI Tentara Laut RI (TLRI) merangkap Kepala Personalia di Lawang- Jawa Tengah dengan pangkat Letkol.
  • Tahun 1946-1948: Divisi VI ALRI ini dirubah menjadi Pangkalan Sepuluh ALRI dimana ia menjadi Wakil Komandan/Kepala Staf ALRI Pangkalan X di Situbondo Jatim merangkap Kepala Seksi Operasi.
  • Tahun 1948-1950: Menjadi Komandan Brigade XVI di Yogyakarta, lalu ia ikut Pasukan Seberang menuju ke Indonesia Timur. Waktu itu ia dan anak buahnya sempat mengunjungi Letkol Lembong, yaitu Komandan KRIS di Bandung beberapa saat sebelum ia dibantai oleh APRA.
  • Tahun 1950-1952: Menjadi Komandan Komando Pasukan (KOMPAS) B – Sulawesi Utara & Maluku Utara di Manado (dengan membawahi Resimen Infanteri 24), dilanjutkan menjadi Komandan Komando Pasukan (KOMPAS) D – Maluku Selatan di Ambon (dengan membawahi Resimen Infanteri 25), terakhir menjadi Komandan Komando Pasukan (KOMPAS) A – Sulawesi Selatan membawahi Resimen Infanteri 23 di Makassar.

Tambahan:

  • Ia dikabarkan sebagai orang yang menembak Jenderal Mallaby, Panglima Pasukan Inggris di Surabaya, yang mana peristiwa ini menjadi penyulut meletusnya Peristiwa 10 November 1945 Surabaya.
  • Tanggal 31 Oktober Joop Warouw mengundang J.H. Tamboto untuk memeriksa pasukannya di Jembatan Merah. Kemudian mereka menaiki gedung bank di depan Jembatan Merah tersebut untuk meninjau keadaan kota.

Mereka berdua tertarik dengan iring-iringan dari gedung Internatio bersama dengan Brigjen Mallaby dengan kapten pengawalnya.

Ketika kendaraan mendekati Jembatan Merah, karaben Joop Warouw mengeluarkan tembakan dua kali berturut-turut kemudian melihat kendaraan itu mulai terbakar, dan semua melompat keluar masuk tepi kuala kecuali Brigjen Mallaby yang tidak sempat keluar dan terbakar bersama sedan tersebut. | STENLYADDY.BLOGSPOT.co.id

Leave a Reply