Gereja Sentrum Langowan. (Foto: Wikimapia).
Gereja Sentrum Langowan. (Foto: Wikimapia).

Sejarah Penginjilan di Langowan

Sejarah Penginjilan Johann Gottlieb Schwarz di Langowan dan sekitarnya

Gereja di Langowan

Masuknya Agama Kristen di Langowan

  1. Kepercayaan Penduduk Sebelum Masuknya Agama Kristen

Sebelum masuknya agama Kristen di Langowan, penduduk Minahasa sudah menganut suatu kepercayaan atau dengan kata lain sudah beragama.

Untuk mengurus soal keagamaan yang hidup dikalangan penduduk diatur seseorang yang disebut Walian. Pada bagian utara Minahasa (Tombulu, Toulour, Tonsea) yang menjadi Walian kebanyakan adalah laki-laki, sedangkan dibagian selatan termasuk Langowan (Tountemboan) wanitalah yang menjadi Walian.

Dalam agama alifuru mereka percaya akan adanya kekuasaan dalam tangan Khalik, dimana pada masa kedatangan Johann Gottlieb Schwarz di Langowan, ia menyaksikan sendiri cara-cara penduduk Langowan menjalankan upacara keagamaan Alifuru antara lain dengan cara memberi persembahan kepada Tuhan mereka yang mereka sebut Empung atau Amang Kasuruan atau si Andangka (Ope).

  1. Pengkristenan Langowan adalah Bagian dari Pengkristenan Minahasa

Berdasarkan hal ini, ternyata usaha-usaha pengkristenan yang dilancarkan oleh Pater-pater dari Portugis maupun dari Spanyol belum sempat menyebarkan agama Kristen di Langowan sampai datangnya Belanda pada permulaan abad ke-18. Sejak kedatangan orang-orang Belanda penyebaran agama dilanjutkan oleh mereka dan yang disebarkan adalah agama Kristen Protestan.

Dalam usaha-usaha penyebaran agama Kristen Protestan inilah maka akhirnya menyentuh ke daerah Langowan. Hal ini ternyata dalam perkembangan selanjutnya agama ini dimulai dari Ambon lalu menyebar ke Minahasa termasuk Langowan. Peristiwa dimulai pada tahun 1605 yaitu dengan tibanya ekspedisi Steven v.d. Hagen di Ambon dimana usaha-usaha penyebaran agama Katolik terhenti karena para Pater sudah menuju ke Philipina.

Pendeta pertama yang mengunjungi Minahasa (Manado) yakni Ds. Montanus pada tahun 1675, dimana dalam laporannya menyatakan bahwa didaerah ini sudah ada golongan orang Kristen (Katolik). Pada masa VOC perkembangan agama Kristen tidaklah serupa terutama pembinaannya, karena pendeta-pendeta yang mengunjungi Minahasa menetap di Ambon. Dengan sendirinya pelayanan pendeta-pendeta itu diberikan dalam waktu yang singkat dan kemudian ditinggalkan dalam waktu yang lama. Baptisan yang dilakukan oleh pendeta-pendeta ini dilakukan dalam jumlah yang banyak (massal) tanpa adanya pengajaran yang baik. Penyebaran agama Kristen di Langowan nanti terjadi pada waktu terbentuknya perkumpulan Pengutusan Injil di Belanda. Pada tanggal 19 Desember 1797 oleh London Missionary Society dan atas anjuran Dr. J. Th. van der Kemp didirikanlah badan penginjilan Nederlandsche Zendeling Genootschap (NZG) yang juga mendirikan sekolah untuk mendidik pendeta-pendeta yang berlokasi di Eterdam, Belanda.

Penginjilan pertama-tama dari NZG yang mengunjungi Minahasa ialah J. Kamp yang datang dari Ambon, yang terkenal dengan julukan “Rasul Maluku” pada tahun 1817. Pengkristenan selanjutnya di Minahasa berjalan lancar dimana atas usaha J. Kamp telah mendatangkan dua pendeta lagi yaitu, Muller dan Lammers. Kemudian pendeta Hellendoren yang ditempatkan di Manado dan atas usahanya yang sangat giat sampai pada 1839 telah mendirikan sekolah-sekolah di Kakas, Langowan, Paniki Bawah, Tateli, Kapataran, dan Lota. Dialah yang mendesak kepada NZG supaya menjadikan Minahasa sebagai lapangan Zending.

Leave a Reply