Ilustrasi. (Foto: Tempo.co)
Ilustrasi. (Foto: Tempo.co)

Transportasi Berbasis Online: Penurunan Biaya Transaksi dan Proses Destruksi Kreatif

Oleh: Yeremia L. Kusumanto*

Dalam lima tahun terakhir, laju perkembangan teknologi seakan berlari dalam kecepatan cahaya. Bermula dari kehadiran smartphone dengan berbagai fitur aplikasi, industri bergerak melenceng dari proyeksi-proyeksi yang dibuat 10-15 tahun lalu. Dalam era kemajuan teknologi yang begitu masif ini, hampir semua sektor ekonomi berlomba-lomba mengubah pola pelayanannya dan menambahkan fasilitas online dalam menyediakan jasa. Para pelaku ekonomi melihat fitur online ini memberi peluang lebih bagi mereka untuk menjangkau pasar dan mengurangi biaya operasional dari pengusaha itu sendiri.

Aktifitas ekonomi berbasis teknologi atau yang sering disebut dengan e-commerce memang tumbuh secara significant. Kompilasi data baik dari official websites dan beberapa sosial media menunjukkan begitu besarnya potensi aktifitas e-commerce saat ini. Dari sisi potensi pasar, sebanyak 132,7 Juta orang atau mencakup porsi 51% dari penduduk Indonesia aktif menggunakan internet. Internet exposure ini mengindikasikan bahwa pasar sudah ada dan tinggal bagaimana para pelaku e-commerce menangkap peluang ekonominya. Selain itu, dibanding dengan negara-negara di Asia Pasifik, pertumbuhan e-commerce di Indonesia menduduki peringkat tertinggi (Emarketer.com).

Salah satu aplikasi yang berkembang pesat ialah aplikasi penyedia jasa layanan transportasi. Tidak hanya penyedia layanan transportasi yang sudah beroperasi secara internasional seperti Uber dan Grab, aplikasi layanan transportasi produk lokal milik Nadiem Makarim, Go-jek juga semakin bersinar.

Kehadiran aplikasi penyedia layanan transportasi berbasis smartphone apps ini tentu menarik banyak orang untuk menggunakannya. Sebagai konsumen, fitur ini memudahkan pengguna untuk mendapatkan layanan transportasi jika dibandingkan dengan metode lama yang masih diadopsi oleh penyedia layanan transportasi konvensional seperti taksi. Dari sudut pandang penyedia jasa, aplikasi layanan ini memberi dimensi baru cara memperoleh penghasilan. Alur hubungan penyedia jasa dan konsumen dipotong dengan aplikasi layanan ini sehingga hilangnya peran pemilik usaha seperti yang ada pada jasa transportasi konvensional.

Namun demikian, perkembangan layanan transportasi berbasis aplikasi ini tidak berjalan mulus. Di beberapa daerah, banyak protes dari pelaku transportasi konvensional terhadap kehadiran transportasi online. Hal ini terjadi karena adanya garansi kenyamanan konsumen dengan mekanisme penilaian berbasis rating yang disajikan setelah mereka selesai menggunakan layanan tersebut. Metode kontrak longgar yang dituangkan dalam perjanjian kerjasama antara pemilik aplikasi dan pengemudi membuat mekanisme quality control yang biasanya tertuang dalam kontrak kerja seperti kepatuhan terhadap peraturan, target pencapaian dan standar pelayanan menjadi hilang dan bergeser ke sistem rating yang diberikan berdasar dari penilaian langsung dari end user/konsumen.

Leave a Reply