Paus Fransiskus mencium kaki seorang pengungsi wanita dalam ritual pembasuhan kaki di pusat pengusian Castelnuovo, Porto, Italia, 24 Maret 2016. Pada aturan sebelumnya, Vatikan hanya memperbolehkan pria yang terlibat dalam ritual ini. Namun pada Januari 2016, Paus mengubah peraturan dengan mengizinkan wanita untuk ikut terlibat. (Foto: AP)
Paus Fransiskus mencium kaki seorang pengungsi wanita dalam ritual pembasuhan kaki di pusat pengusian Castelnuovo, Porto, Italia, 24 Maret 2016. Pada aturan sebelumnya, Vatikan hanya memperbolehkan pria yang terlibat dalam ritual ini. Namun pada Januari 2016, Paus mengubah peraturan dengan mengizinkan wanita untuk ikut terlibat. (Foto: AP)

Paus Fransiskus Diingatkan Tak Gunakan Kata Rohingya di Myanmar

“Mereka menyebut mereka Bengali untuk menyatakan meraeka sebenarnya orang-orang dari Bangladesh,” ujar Connelly.

Sejumlah ahli mengatakan, jika Paus Fransiskus menggunakan kata Rohingya di setiap kotbah maupun pidatonya selama berkunjung ke Myanmar, maka itu sebagai pesan yang jelas bahwa ia akan mengambil sikap dalam isu ini.

Dalam pesan videonya tentang rencana kedatangannya ke Myanmar yang ditayangkan pekan lalu, Paus Fransiskus tidak menggunakan kata Rohingya, sebaliknya fokus pada pesan yang lebih luas mengenai ajakan untuk saling mendukung sebagai anggota keluarga kita.

Pemimpin umat katolik dunia itu berangkat pada hari Minggu malam, 26 November 2017 sekaligus menandai perjalanan ke-31 ke luar negeri selama menjabat sebagai Paus. Kunjungan ke Myanmar merupakan yang pertama kali bagi Paus Fransikus. Ia dijadwalkan tiba di Yangon Senin pagi.

Paus Fransiskus akan bertemu dengan pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, Panglima militer Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing dan pengungsi warga minoritas Rohingya di Bangladesh. | TEMPO.co

Leave a Reply