Ilustrasi.
Ilustrasi.

Parpol dan Pendidikan Politik

Gempita politik Pilkada dan Pemilu mulai tergaung di mana-mana. Padahal Pilkada dan Pemilu nanti 2018 dan 2019. Masyarakat dari berbagai kaum ramai menggunjingkan tentang partai politik (parpol) bersama politisinya hingga siapa bakal calon pada Pilkada maupun Pemilu nanti.

Bagaikan pemerhati bahkan pengamat (komunikasi) politik mereka membahas politik di warung, perempatan/pertigaan jalan maupun rumah kopi. Perdebatan kerap mewarnai diskusi-diskusi mereka.

Mereka itulah rakyat, ada yang sekedar mengamati/memperhatikan, ada yang telah menjadi politisi (pengurus di kelurahan/desa atau kecamatan) dan simpatisan parpol dari berbagai warna.

Di sisi lain, para politisi (berduit) memainkan peran mereka sesuai level masing-masing. Para politisi ini ada yang nyaman sebagai kepala daerah (kota/kabupaten/provinsi), menjadi wakil rakyat di DPRD (kota/kabupaten/provinsi/nasional) dan DPD. Tak mau kalah para aktor politik yang belum menjadi top eksekutif atau wakil rakyat. Tak jarang mereka memainkan peranan-peranan agar bisa mempengaruh kebijakan internal partai politik atau kebijakan eksekutif dan dan legislatif.

Lalu apa hubungannya antara politisi level tinggi ini dengan politisi bawahan dan dengan rakyat yang sekedar suka-suka membincangkan politik.

Suara

Di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), rakyat adalah pemegang kekuasaan tertinggi. Sehingga dilaksanakan Pilkada dan Pemilu langsung artinya para pemimpin dan wakil-wakil dilembaga eksekutif dan legislatif dipilih langsung oleh rakyat.

Ketika tahapan Pilkada atau Pemilu mulai bergulir para politisi melalui kaki tangannya di masing-masing daerah mulai mencitrakan diri, guna menuai dukungan. Soal nanti masuk daftar calon partai dan kemudian ditetapkan KPU itu persoalan nanti. Yang penting sosialisasi dulu.

Pengenalan diri yang dilakukan politisi tentunya berongkos. Berapa? Tanyakan ke masing-masing politisi yang ada di daerah masing-masing. Heheheee…

Pendidikan Politik

Pilkada dan Pemilu adalah ajang politik praktis bagi setiap politisi. Praktis ini kemudian menjadi gampang untuk meraup suara rakyat sebanyak-banyaknya. Salah satu contoh cara praktis adalah menggunkaan politik uang (money politics).

Lalu, apakah hanya karena uang kemudian parpol dan politisinya dapat meraup suara sebanyak-banyaknya dan memenangkan Pilkada atau Pemilu?

Parpol lewat para politisinya sebenarnya mengemban tugas memberikan pendidikan politik ke masyarakat dan konstituennya masing-masing. Di internal parpol, para politisi diberi pelatihan dan pendidikan kepemimpinan. Di dalam parpol juga masyarakat yang menjadi anggota, sehingga disebut politisi, dikenalkan platform organisasi, Anggaran Dasar (AD), Anggaran Rumah Tangga (ART) dan peraturan turunannya hingga visi misi dan program-program parpol baik secara nasional maupun di daerah.

Leave a Reply