Penghormatan raja-raja Sangihe.
Penghormatan raja-raja Sangihe.

Peristiwa Pelengseran 3 Raja Sangihe-Talaud

Oleh: Adrianus Kojongian
(adrianuskojongian.blogspot.co.id)

Peristiwa pelengseran tiga raja di Kepulauan Sangihe-Talaud tahun 1928, kemudian penyidangannya oleh Majelis Adat atau Adatrechtbank April 1929, sempat menghebohkan Indonesia bahkan bergaung luas di Belanda. Kontroversi sah-tidaknya seorang raja diadili banyak didebatkan, karena sejumlah kalangan masa itu menganggap ‘tiada adat memajeliskan raja’. Aturannya kurang benar dan tidak adil. Apalagi, raja-raja yang ‘dimajeliskan’ tersebut adalah tokoh-tokoh disegani, dan telah banyak berjasa bagi pemerintah kolonial ketika itu.

Zelfbestuurder Landschap Siau, Raja Lodewijk Nicolaas Kansil, paling muda, kelahiran tahun 1898. Ia anak bekas Raja Manalang Dulag Kansil, lulus dari Hoofdenschool Tondano, dan menjadi paduka raja dengan menggantikan President Raja Antoni Dulage Laihad. Ia dilantik resmi tanggal 7 Februari 1921 dengan meneken korte verklaring, dan dibeslit gubernemen 28 April 1922 nomor 58.

Zelfbestuurder Landschap Kendahe-Tahuna (Kandhar-Taruna) Christiaan Nomor Ponto berijazah Hoofdenschool Tondano dan Middelbare Landbouwschool Bogor, ditamatkan September 1909. Ia semula menjabat Jogugu menggantikan ayahnya Salmon Ponto yang mengundurkan diri, sejak Februari 1914. Kemudian diangkat paduka raja 21 Desember 1916, dan peroleh pengesahan 24 Maret 1917 nomor 91. Selang 1920-1924 menjadi anggota Volksraad, dipercaya pula sebagai anggota College van Gedelegeerden. Di dewan kolonial tersebut, ia terkenal berapi-api membela hak dan kepentingan kaum tertindas. Ironisnya, karena ia menerima dari Belanda penghargaan Ridder orde Oranje-Nassau Agustus 1923

Bukan hanya dia, Zelfbestuurder Landschap Tabukan Willem Alexander Kahendake Sarapil di bulan Agustus 1921 peroleh anugerah bintang perak (zilveren ster) untuk pengabdian dan kesetiaannya. Ia sangat terdidik. Masih belia, umur 12, di bulan Agustus 1904 ia telah ke Negeri Belanda, masuk School met den Bijbel di Varsseveld lalu Gymnasium (HBS) selama 4 tahun di Arnhem. Tahun 1910 ketika kembali, telah diangkat sebagai Kapitein Laut di Menalu 1913, lalu Jogugu Karakelang. Ia kemudian naik tahta sebagai raja dengan menggantikan ayahnya David Jonathan Sarapil yang mengundurkan diri. Secara resmi dilantik dengan meneken korte verklaring 4 September 1922, dan peroleh pengesahan Gubernur Jenderal 15 Januari 1923 nomor 28.

Para raja di Kepulauan Sangihe rata-rata memiliki pertalian kekeluargaan yang sangat dekat, termasuk ketiga raja ini. Mereka saling bakuipar. Dua putri Manalang Kansil, kakak-kakak raja Lodewijk Kansil dari Siau; yakni Boki Johana Kansil dikawini oleh Christiaan Ponto dari Tahuna. Kemudian Boki Adriana Maria Kansil, dikawini Willem Sarapil dari Tabukan.

Di lain pihak, yang berkuasa di Keresidenan Manado adalah Harko Johannes Schmidt, sejak bulan Mei 1926 dengan menggantikan Jan Tideman. Pembantu dekatnya adalah U.Fagginger Auer, dengan posisi Asisten-Residen diperbantukan Residen Manado, sebelumnya Asisten-Residen di Langkat Sumatera Utara. Sementara Kontrolir Sangir-eilanden berkedudukan di Tahuna adalah C.F.de Boer.

Leave a Reply