Kate Middleton berbincang dengan seorang anak saat mengunjungi Sekolah Dasar Robin Hood di London, 29 November 2017. (Foto: Reuters)
Kate Middleton berbincang dengan seorang anak saat mengunjungi Sekolah Dasar Robin Hood di London, 29 November 2017. (Foto: Reuters)

Faktor Kecerdasan Anak Tidak Hanya Berhitung, Intip 7 Lainnya

Pakar pendidikan dan kecerdasan ganda Universitas Harvard, Amerika Serikat, Thomas Amstrong mengatakan sejak dulu faktor kecerdasan selalu dikaitkan dengan kemampuan anak dalam menguasai hitung-hitungan. Padahal, tidak semua anak kuat dan punya kecenderungan terhadap kecerdasan angka semacam itu.

Berdasarkan penelitian yang dikembangkan Howard Gardner sejak 1983, setiap manusia punya delapan potensi kecerdasan yang seharusnya bisa distimulasi sejak kecil. Setiap anak bisa saja memiliki delapan jenis kecerdasan tersebut.

Tapi biasanya anak akan menonjol di salah satu sisi kecerdasan. Di sinilah perlunya peran orang tua untuk menangkap kecenderungan minat anak, lalu membantunya mengoptimalkan kecerdasan tersebut.

Orang tua harus bisa sering meluangkan waktu berinteraksi dengan anak mereka. Saat potensi kecerdasan anak terlihat, mereka bisa melakukan Smart Strength Finder. Smart Strength Finder berisi puluhan pertanyaan yang harus dijawab orang tua mengenai anak mereka.

Contohnya soal apakah anak suka bermain alat musik, apakah anak lebih suka menggambar, atau bahkan anak ternyata diam-diam kerap berinisiatif melakukan sesuatu. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menunjukkan kecenderungan kecerdasan anak.

Setelah orang tua mengetahui jenis kecerdasan yang dimiliki anak, di sinilah proses memberikan simulasi dimulai. Misalkan, bagi anak yang suka bermain alat musik bisa diperkenalkan dengan mengikuti les piano. Agar stimulasi berjalan efektif, semua kegiatan harus dilakukan dengan penuh kegembiraan.

Membacakan buku, disebutkan Thomas, adalah salah satu cara efektif untuk mengasah kecerdasan anak. Di dalam buku cerita terdapat unsur-unsur yang bisa dimanfaatkan untuk menggali potensi kecerdasan anak seperti bahasa, bunyi, gambar, dan imajinasi.

Membacakan buku memang baru satu dari sekian cara menstimulasi kecerdasan anak. Tapi lewat membaca beberapa unsur kecerdasan bisa terwakili di dalamnya. Sebagai contoh, Thomas menunjukkan sebuah buku cerita berjudul Dr. Seus Sleep Book. Melalui buku tersebut, kecerdasan linguistik, logika, angka, spasial, hingga intrapersonal dan interpersonal anak dirangsang.

Selain membacakan cerita, diperlukan pula peran orang tua untuk memainkan cerita dalam buku. Orang tua dianjurkan melakukan penekanan terhadap bunyi-bunyi tertentu dari kalimat yang berima, mengenalkan anak terhadap banyak kata-kata, menstimulasi anak untuk ikut berhitung atau bernyanyi, serta menanyakan pendapatnya terhadap nilai-nilai atau tokoh dalam cerita. “Stimulasi memang harus sejak dini karena akan menimbulkan koneksi-koneksi di otak sehingga membuat otak anak menjadi kaya,” ujar Thomas November 2016.

Leave a Reply