Ilustrasi. (Foto: pixabay.com)
Ilustrasi. (Foto: pixabay.com)

Miris! Gaya Hidup Hedon, Tapi Tak Punya Rumah

Gaya hidup generasi milenial nampaknya akan menarik untuk terus dibahas. Eksistensi mereka kian mudah diketahui karena aktivitas mereka di media sosial.

Anda tentu masih ingat dengan kisah Awkarin, selebgram yang tiba-tiba terkenal karena gaya hidup hedon, mengeluarkan uang berjumlah besar untuk bersenang-senang dan menyenangkan keksaih dan sahabat-sahabatnya, bukan?

Bahkan, beberapa pemberitaan juga pernah mengabarkan bahwa gadis belia ini sudah menjadi jutawan karena aktivitas sosial media yang dianggap sebagian orang sebagai ajang sensasi yang menghasilkan pundi-pundi uang.

Di lain kisah, cukup kontras ada seorang ibu muda bernama Nuniek Tirta Sari, yang tiba-tiba santer menjadi pembahasan di dunia maya, karena salah satu tulisan di akun Instagramnya.

Nuniek memasang fotonya, disertai keterangan soal harga busana yang dikenakannya saat itu. Menariknya, harga beberapa pakaian yang melekat di badannya saat itu berada pada kisaran Rp100 Ribu, bahkan kurang.

Sebenarnya, Nuniek tak kalah mapannya dengan Awkarin, bahkan mungkin lebih mapan. Ia adalah seorang pengusaha, pegiat sosial, dan berasal dari keluarga pengusaha. Namun, jika Awkarin sibuk memamerkan gaya hidupnya yang hedon, Nuniek justru sibuk mempromosikan gaya hidup sederhana.

Generasi milenial adalah generasi yang lahir pada periode akhir 1980an hingga awal 2000an. Sesuai namanya, generasi mencapai usia emasnya di era 2000an atau era milenium, era yang lekat dengan kemajuan teknologi.

Yuswohady, pengamat konsumer Indonesia mengungkapkan bahwa generasi milenial punya karakter yang senang berbagai pada sosial media, generasi visual, instagramprenuer, holliday effect, selalu mau yang terdepan, dan menginginkan perubahan atas fenomena sosial yang terjadi.

Gaya hidup generasi milenial sekilas negatif, namun ada juga yang positif. Menurut Yuswohady, generasi milenial pada dasarnya sangat kaya pengetahuan saat hendak menentukan sikap atau memilih sesuatu.

“Generasi ini sangat mementingkan akses informasi. Mereka mencari produk sangat detil. Artinya mereka akan mencari dengan teliti dan membanding-bandingkan sehingga menemukan nilai yang tinggi dan sesuai dengan keinginan mereka,” kata Yuswohady kepada Rumah.com

Ia juga menambahkan, bila milennial menghendaki hiburan yang menarik dan berkelas, mereka sudah mengetahui akan konsekuensinya, yakni harus bekerja keras untuk mewujudkannya.

Di sektor properti, hal ini juga berpengaruh. Sebuah survei properti menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia berpotensi sebagai follower (pengikut). Indikatornya ditinjau dari pertumbuhan properti ritel di Indonesia.

Pemasokan properti sektor ritel di Indonesia mengalami peningkatan sebanyak 330.000m2 atau sekitar 7% dari stok yang ada.

Leave a Reply