Ilustrasi.
Ilustrasi.

Mereka yang Tersingkir

Warung di perempatan jalan itu kerap menjadi tempat kongkow-kongkow beberapa orang beda generasi. Saling menyapa, sekedar guyon, menceritakan pengalaman hidup hingga hal-hal serius sering menjadi topik perbincangan.

Walau beda usia dan beda strata sosial, perbincangan mengalir selayaknya masyarakat lain di kampung-kampung ketika berkumpul membicarakan, berdebat tentang masalah sosial, kebijakan politik pemerintah dan lain-lain. Yah, pokoknya bagaikan para politisi dan pengamat sosial politik. Heheheee…

Sore itu, kebetulan aku singgah dan nimbrung mendengar dengan sesekali meladeni pembicaraan yang selalu topiknya berganti – tergantung siapa yang berbicara dan dari sudut pandang mana – sehingga sering melebar.

Setelah sekitar satu jam, gelap mulai datang, lampu jalan secara otomatis menyala, beberapa orang pamit sebentar dengan janji akan kembali. Sejenak yang tersisa duduk diam sambil menikmati sebatang rokok masing-masing yang terselip di jari tangan. Seolah menikmati hidup dengan romantika masing-masing.

“Aku dan beberapa rekan saya, sebenarnya menjadi korban politik ketika Pilkada,” kata seseorang memecah diam yang menyelubungi.

Kaget, saya pun bertanya, “maksudnya?”

“Terus terang ketika Pilkada, aku menjagokan figur yang lain. Masih dalam tahapan Pilkada itu, saya dan beberapa teman perangkat kelurahan diganti. Saya sendiri seorang kepala lingkungan (pala). Digantinya kami ini tanpa sebab. Mungkin karena kami dianggap tidak seirama dengan calon kepala daerah yang kebetulan adalah incumbent,” kisahnya.

Parahnya lagi, sambungnya, honor mereka sebagai perangkat kelurahan tak diserahkan. Kendati itu menjadi hak mereka. “Bukan hanya honor perangkat kelurahan beberapa bulan yang tak lagi diterima, bahkan program jaring pengaman sosial, seperti bantuan beras miskin dan beberapa bantuan sosial lainnya, nama kami kemudian dihapus. Entah bagaimana. Padahal, sebelumnya kami menerima itu,” tuturnya.

Kini sudah setahun lebih Pilkada berakhir, pemimpin telah terpilih. Namun, walau sudah bukan sebagai seorang kepala lingkungan lagi dirinya terus beraktifitas menghidupi dirinya dan keluarga sebagai tukang batu/kayu (alias bas).

“Semoga hak (honor) kami itu menjadi berkat bagi mereka,” ujarnya.

Leave a Reply