Seorang petugas dari Dinas Lingkungan Hidup Banyumas melakukan pengambilan sampel air di Curug Cipendok, Cilongok, Banyumas, Jateng. (Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia)
Seorang petugas dari Dinas Lingkungan Hidup Banyumas melakukan pengambilan sampel air di Curug Cipendok, Cilongok, Banyumas, Jateng. (Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia)

Air Keruh Akibat Eksplorasi Panas Bumi, Sampai Kapan?

Seorang pemuda, Adi (23) tampak kecewa setempat tiba di sekitar air terjun atau Curug Cipendok yang terletak di Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng). Ia yang merupakan warga Bumiayu, Brebes, mengaku terkejut dengan kondisi Curug Cipendok saat sekarang. Airnya berwarna coklat. Titik-titik air dari air terjun tidak menyegarkan, malah membuat sesak nafas dan mata pedih. Sebab, airnya tidak bersih karena telah bercampur lumpur. Kekeruhan tersebut terjadi setelah PT Sejahtera Alam Energi (SAE) melakukan eksplorasi dalam proses pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Baturraden.

“Terus terang, saya kaget karena ternyata Curug Cipendok sudah tidak nyaman lagi. Airnya kotor bercampur lumpur. Dulu, kalau terciprat air dari air terjun Cipendok menyegarkan. Sekarang malah kotor, mata pedas serta membuat rambut jadi kaku, karena terkena cipratan air bercampur lumpur. Sudah jauh-jauh ke sini, malah kondisinya tidak membuat nyaman. Ya sudah pulang saja,” ungkapnya saat ditemui pada Kamis 07 Desember 2017.

Apa yang dialami oleh Adi juga dirasakan para pengunjung lainnya. Umumnya mereka kecewa, karena tidak lagi dapat menikmati segarnya air terjun di areal hutan lereng selatan Gunung Slamet tersebut. “Sudah setahun ini, kondisi air kotor di Curug Cipendeok terjadi. Biasanya, kotor pada saat hujan, kemudian bersih lagi. Namun, dalam sebulan terakhir, tepatnya sejak awal November lalu, hampir setiap hari airnya kotor. Tidak tahu sampai kapan harus seperti ini,” kata Badri (51) pedagang di warung kompleks Curug Cipendok.

Ia mengungkapkan tidak sedikit pengunjung yang kecewa terhadap kondisi air terjun. “Umumnya, mereka bertanya, ada apa gerangan kok sekarang begitu berubah. Saya hanya mengatakan kalau di atas sedang ada proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Baturraden. Dampaknya seperti ini. Mereka sangat kecewa, karena tidak bisa lagi mandi di bawah air terjun. Biasanya, di bawah air terjun persis, menjadi tempat kesukaan para pengunjung. Airnya bersih dan dingin, tapi itu dulu. Sekarang mereka tidak bisa lagi,” jelasnya.

Ia juga terkena dampak kekeruhan air Curug Cipendok, karena sejak keruh pengunjung jadi sedikit. Hal itulah yang berdampak pada warungnya. “Sejak air menjadi keruh, pengunjung warung juga berkurang. Dulu, saat akhir pekan pada Sabtu-Minggu, rata-rata harian bisa mendapatkan penghasilan hingga Rp500 ribu, tetapi saat sekarang hanya Rp100 ribu. Turunnya hingga 80%. Saya hanya bisa pasrah dan minta bagaimana caranya agar Curug Cipendok kembali bersih lagi airnya,” ujarnya.

BACA JUGA: Tekan Emisi: Aliansi Komitmen Tinggalkan Energi Batubara, Bagaimana Indonesia?

Leave a Reply