Jemmy Tundo (kaos kuning), lelaki paruh baya yang telah berpuluh tahun menjadi pedagang (PKL) di pusat kota Tomohon. (Foto: publikreport.com)
Jemmy Tundo (kaos kuning), lelaki paruh baya yang telah berpuluh tahun menjadi pedagang (PKL) di pusat kota Tomohon. (Foto: publikreport.com)

Mereka di Kaki Menara Alfa Omega

PKL: Penghasilan Tahun Silam Lebih Memuaskan, Dibanding Sekarang

Bagi Pedagang Kaki Lima (PKL) pusat kota – pusat keramaian – adalah tempat mereka mencari nafkah. Pusat keramaian seakan menjadi saksi hidup mereka baik susah dan senang. Selewiran orang dan kendaraan yang berlalu lalang seakan menjadi berkat tersendiri bagi mereka yang menjual berbagai macam dagangan, mulai dari makanan, buah dan lain-lain.

Waktu terus bergulir, pembangunan menata kota terus berjalan, lalu bagaimana nasib para PKL di pusat kota Tomohon kini?

Jemmy Tundo, lelaki paruh baya mengaku telah berjualan di pusat kota Tomohon sejak 30 tahun silam. Kala itu dirinya masih belajar berdagang sebagai PKL bersama kedua orang tuanya, hingga kemudian memiliki keberanian dan modal seadanya untuk berdagang sendiri.

“Bersama orang tua saya belajar menjual buah-buahan, salak, lemon, langsa dan buah musiman lainnya serta rokok. Kehidupan sebagai pedagang (PKL) terus berlanjut sampai sekarang. Mau kerja apa lagi? Inilah keahlian kami,” kisahnnya kepada publikreport.com, Senin 11 Desember 2017 sore.

Merasakan uang banyak dan sedikit, beruntung atau bangkrut ketika berjualan, bagi lelaki tiga anak dari isterinya Reine ‘Nona’ Montolalu merupakan hal biasa. Sebagai suami isteri keduanya saling membantu berjualan.

“Ketika buah makin sulit didapat kami berjualan sate dan nasi bungkus serta kopi bagi para sopir dan tentunya rokok. Tapi inipun tak berlangsung lama. Sudah banyak yang melakoni jualan sate dan ragey,” ujarnya.

Pasang surut sebagai pedagang, tak membuat Jemmy dan Nona menyerah. Kini jelang Natal 2017 dan Tahun Baru 2018, Jemmy menjajakan kembang api di seputaran Menara Alfa Omega.

“Penghasilan tahun-tahun silam terasa lebih memuaskan dibandingkan sekarang. Karena dulu berjualan masih bebas,” ungkapnya.

Oma Altje, Tibo Tangguh di Pasar Tomohon

Leave a Reply