Penanaman mangrove yang dilakukan saat peringatan Hari Bumi, 22 April 2017, di Aceh. (Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia)
Penanaman mangrove yang dilakukan saat peringatan Hari Bumi, 22 April 2017, di Aceh. (Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia)

Pilih Mana, Restorasi Hutan Bakau Secara Bersama atau Perseorangan?

Dalam beberapa dekade terakhir, hutan bakau di Indonesia terus mengalami penurunan jumlah luas yang diakibatkan berbagai faktor. Selain itu, banyak yang kondisinya kritis, sehingga makin menurunkan total luasan mangrove. Kondisi tersebut sangat memprihatinkan, karena hutan bakau memberi manfaat yang banyak untuk ekosistem di darat maupun laut.

Hutan bakau yang kritis tersebut, menurut Country Director The Nature Conservancy (TNC) Rizal Algamar, mendesak untuk segera diselamatkan. Tindakan penyelamatan penting dilakukan, karena bakau adalah ekosistem yang penting dan bisa untuk menyerap karbon, pertahanan pesisir, dan mendukung keamanan pangan.

Dengan manfaat yang banyak, Algamar mendorong semuan pihak untuk terlibat dalam penyelamatan hutan bakau. Salah satunya, adalah dengan ikut bergabung dalam Mangrove Ecosystem Restoration Alliance (MERA) yang digagas oleh TNC untuk Indonesia.

“Kami melihat ada suatu kesempatan. Prinsip kerja kami kan berkolarobasi. Dengan Pemerintah, dengan komunitas. Kalau mau membuat ini menjadi masif, kita libatkan peran swasta. Sehingga kalau gotong royong, langkah kita lebih jauh dan lebih cepat dibandingkan sendirian,” ungkap dia di Jakarta, Selasa 12 Desember 2017.

Pentingnya menjalin kerja sama, menurut Algamar, karena selama ini penyelamatan hutan bakau di Indonesia dilakukan secara perseorangan, baik atas nama lembaga atau pribadi. Cara tersebut, meski bagus dan membantu penyelamatan bakau, namun kata dia, menjadi kurang efektif karena hanya berlangsung sementara.

Algamar mengatakan, inisiasi pembentukan aliansi dilakukan karena TNC melihat bahwa hutan bakau di Indonesia dari waktu ke waktu semakin kritis. Padahal, dalam waktu bersamaan, upaya penyelamatan bakau juga terus dilakukan oleh berbagai pihak.

“Sekarang itu ada sekitar 1,7 juta hektare mangrove yang sudah kritis dan perlu segera diselamatkan. Jika upaya penyelamatan dilakukan sendiri-sendiri, itu juga tidak efektif. Oleh itu, kita dorong supaya upaya ini masuk dalam progam yang dilaksanakan aliansi,” jelas dia.

Dengan menjadi sebuah program, Algamar menyebut, upaya penyelamatan hutan bakau dipastikan akan berlangsung secara kontinu dan dilakukan secara Bersama. Melalui aliansi, upaya penyelamatan dengan melaksanakan restorasi, bisa dilakukan lebih detil dan komprehensif.

10 Anggota Inti

Leave a Reply