Terdakwa kasus dugaan korupsi KTP elektronik, Setya Novanto (kedua kiri), memasuki ruangan pada sidang perdana di Gedung Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu 13 Desember 2017. Sidang tersebut mengagendakan pembacaan dakwaan oleh jaksa penuntut umum. (Foto: Antara)
Terdakwa kasus dugaan korupsi KTP elektronik, Setya Novanto (kedua kiri), memasuki ruangan pada sidang perdana di Gedung Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu 13 Desember 2017. Sidang tersebut mengagendakan pembacaan dakwaan oleh jaksa penuntut umum. (Foto: Antara)

Demokrasi Tak Mengenal Orang Kuat

POLITIK | HUKUM

Sekalipun Presiden Joko Widodo dalam berbagai jajak pendapat yang dilakukan oleh berbagai lembaga survei independen memperoleh tingkat elektabilitas yang jauh melampaui pesaing-pesaingnya, tak satu pun pengamat politik memberinya predikat sebagai orang kuat.

Sebaliknya, pengakuan sebagai orang kuat, bahkan “orang sakti yang licin” diberikan oleh beberapa pengamat politik dan jurnalis kepada Setya Novanto, mantan ketua DPR sekaligus mantan ketua umum Partai Golkar yang kini menjalani persidangan tindak pidana korupsi sebagai terdakwa skandal korupsi kartu tanda penduduk elektronik.

Penyebutan Novanto sebagai orang kuat bahkan sakti bisa dimaklumi karena politisi yang sebelumnya sarat dengan berbagai dugaan skandal itu bisa meloloskan diri dari jeratan hukum.

Rekam jejak Novanto yang tak sedap sebagai politisi Partai Golkar tercermin dari rentetan kasus yang pernah didugakan kepadanya. Pada tahun 2000, Novanto tersangkut kasus cassie Bank Bali. Pada kasus ini nama Novanto disebut oleh jaksa dalam perkara yang merugikan negara lebih dari Rp500 milliar. Dalam perkara ini yang terkena vonis penjara hanya pengusaha Djoko S Tjandra dan mantan Gubernur BI Syahril Sabirin.

Novanto pernah diperiksa selama 10 jam dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi untuk penyelundupan impor 60.000 metrik ton beras dari Vietnam. Novanto pun lolos dari proses hukum selanjutnya.

Nama Novanto juga mencuat setelah Muhammad Nazaruddin, mantan Bendaraha Umum Partai Demokrat menjelaskan bahwa Setya Novanto dan Anas Urbaningrum merupakan bos dari proyek KTP elektronik pada tahun anggaran 2011-2012. Bahkan, Nazaruddin juga menyebut kalau Setya Novanto menerima aliran dana sebesar Rp300 miliar untuk proyek besar tersebut.

Novanto juga pernah diduga terlibat dalam suap yang menyeret Akil Mochtar dan Ratu Atut. Setya Novanto dipanggil oleh KPK bersama Sekjen Idurs Marham. Tapi, hanya Akil dan Atut saja yang masuk ke dalam penjara, Novanto tetap lolos dan bebas dari jeratan hukum.

Leave a Reply