Ilustrasi. (Foto: shutterstock.com)
Ilustrasi. (Foto: shutterstock.com)

Waspadai Fenomena Dokteroid, Orang yang Ngaku-ngaku Dokter

Masalah dalam dunia kedokteran tidak hanya tentang masalah penyakit yang menjangkit masyarakat, namun juga fenomena dokteroid. Ini adalah fenomena oknum-oknum yang melakukan praktik kedokteran secara ilegal. Dalam pengawasan dan pembinaan, Ikatan Dokter Indonesia menemukan hal yang lebih krusial yaitu adanya seseorang yang tidak memiliki ijazah serta kompetensi dokter namun memberanikan diri untuk menjalankan praktik kedokteran.

Di dalam undang-undang praktik kedokteran syarat untuk menjalankan praktik kedokteran adalah harus memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) yang diterbitkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia. Untuk mendapatkan STR seseorang harus memiliki ijazah dokter yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran dan juga memiliki sertifikat kompetensi yang diterbitkan oleh Kolegium yang merupakan bagian dari IDI.

Sepanjang 2017 banyak dilaporkan tentang dokteroid ini. Pada bulan Mei 2017 diringkus dokter kecantikan palsu yang berpraktik di toilet di sebuah mal di Jakarta Pusat. Pada Juni 2017, di Surabaya dilaporkan keberadaan dokter spesialis patologi anatomi palsu yang kemudian segera ditindak oleh dinas kesehatan setempat. Sempat menjadi pemberitaan kasus “Jeng Ana” pada bulan Juni 2017 yang memberikan pendapat medis serta melakukan pemeriksaan-pemeriksaan medis padahal yang bersangkutan tidak memiliki kompetensi di bidang tersebut. Kasus terbaru, yang berhasil diungkap oleh Kepolisian adalah penjualan surat sakit palsu. Setelah dihimpun, diketahui terdapat 17 kasus dokteroid yang berhasil ditindak dinas kesehatan atau aparat penegak hukum.

“Kami menghimbau kepada masyarakat untuk memanfaatkan laman resmi IDI www.idionline.org yang menampilkan direktori anggota IDI untuk memastikan bahwa dokter yang melayani adalah dokter yang terdaftar sebagai anggota IDI. Data tersebut juga telah terintegrasi dengan KKI melalui laman www.kki.go.id untuk memastikan dokter yang bersangkutan juga telah memiliki STR,” kata Ilham Oetama Marsis Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia dalam keterangan pers yang diterima Tempo pada 01 Februari 2018.

Pengurus Besar IDI mengategorikan Dokteroid kepada beberapa kelompok. Pertama orang awam yang berpraktik sebagai dokter, kedua orang awam yang memberikan konsultasi dan seminar sebagai dokter. Kategori ketiga, profesional lain yang melakukan tindakan kedokteran di luar kompetensi dan kewenangannya, dan keempat dokter asing yang berpraktik ilegal dan memberikan konsultasi di Indonesia. Berdasarkan UU Praktik Kedokteran dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, tindakan-tindakan tersebut dimasukkan ke dalam tindakan pidana umum. Khusus untuk profesional lain yang melakukan tindakan kedokteran perlu dilakukan koordinasi dengan organisasi profesinya untuk memastikan bahwa tindakan tersebut di luar kompetensi dan kewenangannya.

Leave a Reply