Proses pengolahan ikan menjadi produk ikan kaleng di salah satu industri pengalengan ikan di Banyuwangi. (Foto: Petrus Riski/Mongabay Indonesia)
Proses pengolahan ikan menjadi produk ikan kaleng di salah satu industri pengalengan ikan di Banyuwangi. (Foto: Petrus Riski/Mongabay Indonesia)

Koneksi Bisnis Lemah Sebabkan Industri Perikanan dan Kelautan Anjlok?

Diversifikasi Usaha

Salah satu lini bisnis dan investasi kelautan dan perikanan yang ada di Indonesia, adalah industri surimi yang saat ini sedang mengalami penurunan akibat sulitnya pengusaha mendapatkan bahan baku ikan. Industri tersebut, kondisinya saat ini sedang sekarat, karena pasokan ikan yang dibutuhkan tidak kunjung ada, walaupun hasil tangkapan di laut melimpah.

Untuk itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengupayakan diversifikasi usaha perikanan. Agar mendorong industri surimi bisa mendapatkan pasokan bahan baku dari banyak sumber dan tidak tergantung pada sumber tertentu saja.

“Ketergantungan tersebut, yang selama beberapa tahun terakhir ini yang membuat industri surimi menurun tajam,” kata Susi.

Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Sjarief Widjaja mengatakan, karakter perikanan Indonesia sangatlah unik dengan luas Laut Indonesia mencapai 5,8 juta kilometer persegi yang terbagi menjadi tiga bagian. Yaitu Papua yang secara geografis melekat pada Benua Australia; bagian barat Indonesia hingga Kalimantan yang secara geografis melekat dengan benua Asia; dan bagian Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang masuk pada samudera lepas.

Menurut Sjarief, laut Indonesia semakin unik, karena tiga bagian laut yang ada juga memiliki spesies ikan yang berbeda-beda. Di bagian barat contohnya, ditemukan jenis ikan kerapu, kakap merah, lobster, udang, dan sedikit ikan kembung, ikan layang, dan tongkol. Sedangkan, katanya, di perairan bagian Papua terdapat spesies seperti cumi, kakap merah, ikan gulama, udang, dan beberapa spesies lainnya.

“Adapun di bagian samudera lepas hidup migratory fish, seperti tuna, tongkol, dan cakalang,” jelas dia.

Akan tetapi, Sjarief menambahkan, keunikan laut Indonesia juga semakin lengkap, karena berbagai spesies ikan yang bisa ditemukan di berbagai perairan, jumlahnya masing-masing masih terbatas. Oleh itu, jika ada industri perikanan yang mengandalkan satu spesies ikan saja dan bersifat besar, maka itu dipastikan tidak akan bisa bertahan lama.

Fakta tersebut, kata Sjarief, kemudian dirasakan oleh industri surimi yang masih mengandalkan ikan kurisi, ikan kuniran, ikan mata goyang, dan atau ikan-ikan tertentu lainnya untuk memenuhi produksi. Di sisi lain, walau bahan baku untuk surimi masih terbatas, kecepatan produksinya justru terpantau lebih cepat dibandingkan dengan kecepatan regenerasi ikan yang digunakan sebagai bahan baku.

“Sehingga dalam waktu dekat industri akan kesulitan menemukan bahan baku,” tandas dia.

Agar tidak terpuruk lagi, Sjarief meminta kepada para pengusaha surimi untuk segera membuat industri perikanan yang berbasis pada spesies lokal yang pasokannya di alam masih melimpah. Jangan sampai, industri surimi meniru industri serupa di negara seperti Argentina, Cile, Amerika Serikat, dan Kanada. Di negara-negara tersebut, kata dia, spesies ikan seperti Anchovy atau Alaska Pollock jumlahnya masih jutaan ton.

“Negara kita tidak seperti itu, kita memiliki banyak jenis ikan tetapi volumenya sedikit,” tambah dia.

Tidak cukup disitu, Sjarief mengungkapkan, agar industri surimi bisa bertahan di industri perikanan dan kelautan nasional, maka surimi tidak bisa hidup sendiri. Menurutnya, industri surimi harus dikombinasikan dengan jenis usaha perikanan lainnya seperti frozen seafood, fillet, loin (tuna) ataupun ikan segar.

“Kita harus bisa multiproduk, multispesies dengan added value (nilai tambah) yang tinggi. Kalau hanya mengandalkan surimi, maka populasi ikan itu sendiri akan lebih cepat menipis,” tegas dia.

Leave a Reply