Masye Pangalila (45) dan Anastasia Maudi (50), keduanya warga Lingkungan VIII Kelurahan Rurukan Kecamatan Tomohon Timur Kota Tomohon, mengolah lahan pertanian di lereng gunung. Lahan pertanian yang diolah Masye dan Anastasia ini sudah bukan lahan sendiri, sebab mereka kini hanya petani penggarap saja. (Foto: 'publikreport.com)
Masye Pangalila (45) dan Anastasia Maudi (50), keduanya warga Lingkungan VIII Kelurahan Rurukan Kecamatan Tomohon Timur Kota Tomohon, mengolah lahan pertanian di lereng gunung. Lahan pertanian yang diolah Masye dan Anastasia ini sudah bukan lahan sendiri, sebab mereka kini hanya petani penggarap saja. (Foto: 'publikreport.com)

Kesejahteraan Petani Sulut Turun

EKONOMI & BISNIS

MANADO, publikreport.com – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), M Edy Mahmud mengungkapkan, Februari 2018 tingkat kesejahteraan petani di bumi nyiur melambai mengalamai penurunan. Hal ini ditandai dengan melemahnya Nilai Tukar Petani (NTP) sub sektor pertanian.

“Turunnya NTP sub sektor Februari 2018 turun 1,34 persen ke angka indeks 93,93, dari nilai indeks sebelumnya Januari 2018 sebesar 95,21,” ungkap Edy, Jumat 02 Maret 2018.

Turunnya NTP, menurut Edy, lebih disebabkan kenaikan harga pada bahan konsumsi rumah tangga.

Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) pada Februari 2018, Edy melanjutkan, terjadi penurunan 0,13 persen dibanding bulan sebelumnya, Januari 2017, 106,16 dan di Februari 2018 menjadi 106,02.

NTP selama tahun kalender 2018, Edy menjelaskan, mengalami penurunan 1,30 persen, tetapi secara YoY (Year of Year/tahun ke tahun) masih mengalami kenaikan 1,57 persen.

Dari hasil pemantauan BPS terhadap harga komoditi di perdesan, Edy memaparkan, secara umum dapat digambarkan turunnya nilai NTP sebesar 1,34 persen, dikarenakan kenaikan indeks harga yang dibayar petani 1,36 persen, sementara indeks harga yang diterima petani mengalami stagnan.

Leave a Reply