Tyson Navarro, sedang asing memainkan game yang membangun sebuah kode menggunakan iPad di Toko Apple, Stanford, California (11/12). Apple berpartisipasi dalam ilmu komputer bersama dengan code.org untuk mengajar anak-anak dasar-dasar coding. (Foto: AP/Marcio Jose Sanchez)
Tyson Navarro, sedang asing memainkan game yang membangun sebuah kode menggunakan iPad di Toko Apple, Stanford, California (11/12). Apple berpartisipasi dalam ilmu komputer bersama dengan code.org untuk mengajar anak-anak dasar-dasar coding. (Foto: AP/Marcio Jose Sanchez)

Video Game (Bukan Lagi) untuk Anak-anak?

Stigma yang selama ini ada: video game adalah mainan untuk anak-anak. Padahal, pandangan itu tidak lagi relevan. Kita harus menerima kenyataan bahwa game telah menjelma menjadi industri kreatif raksasa yang, meski tak setenar film dan musik, akan bersinggungan dengan hidup kita dan/atau anak-anak kita. Fakta berikutnya, tidak semua video game ditujukan bagi anak-anak.

Anggapan bahwa video game semata-mata untuk bocah berangkat dari perkembangan teknologi video game itu sendiri. Pada akhir 1980-an dan awal 1990-an, di era konsol Nintendo Entertainment System dan SEGA Genesis, sebagian besar game memang terlihat seperti mainan bocah. Anda berperan sebagai tukang ledeng yang bisa melemparkan bola api di Super Mario Bros, atau landak berkecepatan lari mahatinggi di Sonic the Hedgehog.

Keterbatasan performa konsol yang masih menggunakan visualisasi 8–16 bit memang tidak memberi ruang bagi pengembang game untuk menyuguhkan gambar yang lebih mendetail, termasuk konten kekerasan. Sayangnya, banyak orang berhenti memantau game hanya di era tersebut. Sementara itu, industri tersebut terus tumbuh seiring dengan perkembangan teknologi yang membuat kualitas visual dan permainan semakin mendekati dunia nyata, dengan nilai menyentuh US$ 170 miliar pada tahun ini.

Terlebih, industri game juga bersifat dinamis, berkembang seiring dengan menuanya konsumen mereka. Kombinasi hal ini menciptakan video game yang tujuannya tidak lagi sekadar playing game, melainkan lebih sebagai media interaktif yang menawarkan cerita, yang di beberapa judul seperti The Walking Dead dianggap lebih baik daripada versi filmnya.

Maka, seperti layaknya industri film, video game punya badan rating umur. Anak-anak di bawah 17 tahun jelas tidak boleh memainkan God of War–seri terbaru akan dirilis pada 20 April mendatang di pasar global. Selain karena pertempuran yang brutal, ceritanya terlalu berat dan karakternya kerap berbahasa kasar. Bahkan ada adegan seks yang menampilkan ketelanjangan pada seri sebelumnya.

Leave a Reply