Masyarakat terlibat dalam program penanaman pohon konservasi di Talaud, Sulut. (Foto: Yayasan IDEP Talaud)
Masyarakat terlibat dalam program penanaman pohon konservasi di Talaud, Sulut. (Foto: Yayasan IDEP Talaud)

Melihat Desa Konservasi di Talaud

Kemudian, untuk meminimalisir penggunaan pupuk kimia yang berdampak merebaknya hama Sexava nubilalis, masyarakat diajarkan membuat pestisida alami serta pupuk organik. “Masyarakat diberi solusi alternatif, yaitu pemberian garam pada sekitar akar dan pucuk tanaman kelapa untuk mematikan telur-telur Sexava. Di samping itu, garam merupakan nutrisi yang dibutuhkan tanaman kelapa,” kata David.

Selain memperkenalkan sistem pertanian ramah lingkungan, mereka juga membagi pengetahuan tentang pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan. Kini, masyarakat sudah memproduksi camilan hasil kebun pekarangan keluarga (KPK), seperti kripik sayur, rempeyek, teh herbal, kelapa kering dan Virgin Coconut Oil (VCO).

“Hasil olahan itu, bukan saja sudah punya pasar tetap di kabupaten kepulauan Talaud, tapi juga sudah menembus pasar di luar pulau,” lanjut David.

Upaya membuka peluang ekonomi alternatif juga dilakukan lewat program ekowisata desa melalui kelompok-kelompok masyarakat di sana. Kelompok-kelompok itu nantinya, akan didampingi dalam pembuatan dan pendataan mengenai potensi ekowisata yang ada di sekitar desa. Selain itu, mereka juga akan mendapat dukungan promosi dalam pengembangan destinasi wisata, berupa pembuatan film dokumenter dan flyer.

Bahkan, saat ini, promosi wisata bisa disalurkan melalui situs www.saveporodisa.info, sebuah situs yang ditujukan untuk berbagi informasi demi kelestarian lingkungan dan meningkatkan perekonomian masyarakat di kepulauan Talaud.

Lewat kegiatan-kegiatan itu, David berharap, masyarakat bisa secara aktif melindungi lingkungan tanpa melupakan kebutuhan hidupnya, serta dapat menjaga kelestarian Sampiri atau nuri talaud yang tengah menghadapi keterancaman.

“Harapannya, ada peningkatan pengelolaan sumberdaya alam di sana. Misalnya, pengurangan penggunaan bahan kimia seperti pupuk sintetik. Kebetulan 7 desa ini berbatasan langsung dengan Suaka Margasatwa Karakelang.”

Selain kegiatan-kegiatan tadi, masyarakat juga melibatkan diri dalam program penanaman pohon konservasi di 3 desa di sekitar SM Karakelang. Penanaman 5000 pohon jenis buah-buahan ini, diharapkan dapat membantu perluasan habitat Sampiri.

Kehidupan Warga

Michael Wangko, ketua Perkumpulan Kompak (Komunitas Pecinta Alam Karakelang) yang juga mitra proyek IDEP Selaras Alam Talaud, dalam sebuah film dokumenter berjudul “Talaud Lestari” mengatakan, program-program konservasi dirasa sangat penting bagi kehidupan masyarakat di kabupaten kepulauan itu, yang juga tersebar di pulau-pulau kecil.

Sebagai pulau terbesar, masyarakat di pulau Karakelang juga sangat bergantung pada air dan kelestarian hutan. Namun, praktik-praktik perusakan hutan masih terus terjadi dan mengancam populasi satwa liar, termasuk burung Sampiri.

“Itu (rusaknya habitat dan keterancaman satwa endemik) jadi dasar kami untuk berbuat sesuatu bagi pulau ini,” terang Michael Wangko dalam film yang dirilis IDEP Selaras Alam.

Petrus Simon Tuange, Plt Bupati Talaud, mengapresiasi kerja-kerja konservasi yang diselenggarakan IDEP Selaras Alam. Pelatihan dan informasi yang dibagikan masyarakat dinilainya sangat membantu menjaga kelestarian alam di kabupaten kepulauan itu.

“Banyak hal yang telah dilakukan oleh yayasan IDEP di Talaud. Masyarakat sudah sangat terbantu dengan berbagai kegiatan yang dilakukan. Kiranya, warga dapat memanfaatkan dengan baik ilmu yang dibagikan. Sebab, hasilnya masyarakat sendiri yang akan menerimanya,” terang Petrus seperti dikutip dari manadopostonline.com, Senin, 23 April 2018. | MONGABAY.co.id

Leave a Reply