Sapi mati dengan kondisi bau busuk, di lokasi rendaman Dusun Wamsaid, Desa Dava, Kecamatan Wailata, Kabupaten Buru, Maluku. (Foto: Nurdin Tubaka/ Mongabay Indonesia)
Sapi mati dengan kondisi bau busuk, di lokasi rendaman Dusun Wamsaid, Desa Dava, Kecamatan Wailata, Kabupaten Buru, Maluku. (Foto: Nurdin Tubaka/ Mongabay Indonesia)

Petaka di Gunung Emas

Tenda-tenda biru dari terpal tampak memenuhi beberapa bagian di gunung ini. Letak tenda berdekatan dan tak beraturan. Pondok-pondok itu adalah ‘rumah’ sementara para penambang yang datang dari berbagai daerah untuk berburu emas di Pulau Buru.

Pemandangan ini yang terlihat di lokasi tambang emas di Gunung Botak, Kabupaten Kepulauan Buru, Maluku. Daerah ini, sebelah utara berbatasan dengan laut Seram, sebelah selatan laut Banda, dan barat timur, berbatasan dengan Selat Manipa.

Sejak Maret 2018, sekitar 1.000 lebih tenda dan kolam rendaman milik penambang di lokasi itu. Kolam rendaman milik beberapa pengusaha ini tak hanya di dataran tinggi, juga di dataran rendah gunung ini.

Pada 2011, awal mula warga menemukan emas di Gunung Emas, nama lain Gunung Botak. Saat itu, lalu warga mengolah emas di Botak, pakai alat seadanya. Hari berganti hari, kondisi berubah setelah datang alat-alat canggih dari luar Pulau Buru untuk proses pengolahan emas.

Awalnya, warga di Pulau Buru, hanya menggunakan alat-alat dapur seperti, nyiru, panci dan wajan untuk mendulang emas. Saat alat-alat lebih modern didatangkan dari luar daerah ke Gunung Emas, cara-cara manual seperti tak lagi digunakan.

Penambang yang tadinya hanya sekitar ratusan orang, kini berlipat ganda hingga puluhan ribu orang. Selain warga lokal, penambang dari berbagai daerah seperti Kalimantan, Makassar dan Jawa, juga datang ke Pulau Buru, untuk berburu emas.

Sejak itu pula, berbagai tingkatan penambangan bermunculan di lokasi itu, mulai dari pengusaha, penambang, pengolah emas, pedagang, bahkan lain-lain. Judi, peredaran minuman keras sampai narkoba juga marak di lokasi tambang.

Penggunaan merkuri dan sianida pun menggila. Meski berkali-kali pemerintah mencoba penertiban, namun lokasi itu masih saja masuk para penambang untuk kegiatan ilegal. Alam sekitar mulai tercemar dan mengalami kerusakan cukup fatal. Bahkan, hewan ternak milik warga tiba-tiba mendadak mati.

Sapi-sapi mati ini diduga kuat lantaran limbah merkuri dan sianida dibuang begitu saja, hingga tercecer dan masuk mengaliri sungai-sungai yang mengarah ke laut di Pulau Buru.

Warga pun mulai khawatir. Untuk mengantisipasi agar tak terserang penyakit karena marak penggunaan merkuri dan sianida, warga tak lagi mengkonsumsi sayuran dan air di sekitar Gunung Emas.

Derita warga

Leave a Reply