Keluarga Besar Polres Sitaro bersama Bhayangkari dipimpin Kapolres Sitaro, AKBP Sudung Ferdinand Napitu, Selasa, 19 Juni 2018, menyambangi dan berbagi kasih dengan Nadya Dwirose Pandensolang (19), penderta penyakit hidrosefalus di kediamannya yang berada di Lingkungan II, Kelurahan Ondong, Kecamatan Siau Barat.
Keluarga Besar Polres Sitaro bersama Bhayangkari dipimpin Kapolres Sitaro, AKBP Sudung Ferdinand Napitu, Selasa, 19 Juni 2018, menyambangi dan berbagi kasih dengan Nadya Dwirose Pandensolang (19), penderta penyakit hidrosefalus di kediamannya yang berada di Lingkungan II, Kelurahan Ondong, Kecamatan Siau Barat.

Nadya, Penderita Penyakit Hidrosefalus

SITARO, publikreport.com – Nadya Dwirose Pandensolang (19), warga Lingkungan II, Kelurahan Ondong, Kecamatan Siau Barat, Kabupaten Kepulauan Sitaro (Siau, Tagulandang, Biaro) sudah cukup lama menderita penyakit hidrosefalus. Nadya merupakan anak kedua dari seorang perwira polisi yang bertugas di Kepolisian Resort (Polres) Sitaro, Kompol (Komisaris Polisi), Winsulangi Pandensolang, dengan jabatan Kabag (Kepala Bagian) Sumda.

Selasa, 19 Juni 2018, siang, Kapolres (Kepala Kepolisian Resort) Sitaro, AKBP (Ajun Komisaris Besar Polisi) Sudung Ferdinan Napitu menyambangi Nadya di rumahnya.

“Ini bentuk kepedulian dan solidaritas Keluarga Besar Polres Kepulauan Sangihe dan Bhayangkari. Semoga Nadya cepat sembuh,” ujarnya, seraya menyerahkan tali asih kepada Nadya yang duduk di kursi roda.

BACA JUGA: Yanni Poluan, 12 Tahun Idap Penyakit Kaki Gajah

Kompol Winsulangi Pandensolang merasa terharu atas kunjungan pimpinannya bersama ke rumahnya.

“Terima kasih komandan, atas kepedulian, empati dan kebersamaan ini. Kunjungan ini semakin menambah semangat dan motivasi kami dalam merawat Nadya demi kesembuhannya,” ucapnya.

BACA JUGA: Kapolres Tomohon Kunjungi Penderita Penyakit Kaki Gajah

Pengertian Hidrosefalus

Hidrosefalus adalah penumpukan cairan pada rongga otak atau yang disebut dengan ventrikel. yang mengakibatkan ventrikel-ventrikel di dalamnya membesar dan menekan organ tersebut. Cairan ini akan terus bertambah sehingga ventrikel di dalam otak membesar dan menekan struktur dan jaringan otak di sekitarnya. Jika tidak segera ditangani, tekanan ini dapat merusak jaringan dan melemahkan fungsi otak.

Hidrosefalus dapat diderita oleh segala usia, namun kasus ini sebagian besar terjadi pada bayi dan lansia. Berdasarkan gejalanya, penyakit hidrosefalus dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu:

Hidrosefalus kongenital atau bawaan. Kondisi ini terjadi sejak bayi baru dilahirkan. Bayi yang mengalami hidrosefalus bawaan, kepalanya akan terlihat sangat besar. Ubun-ubun atau fontanel mereka akan tampak menggelembung dan menegang. Dikarenakan kulit kepala bayi masih tipis, maka penggelembungan tersebut membuat urat-urat kepala menjadi terlihat dengan jelas. Bayi-bayi dengan hidrosefalus, memiliki mata yang terlihat seperti memandang ke bawah dan otot-otot kaki terlihat kaku, serta rentan mengalami kejang. Gejala-gejala hidrosefalus bawaan lainnya adalah mudah mengantuk, mual, rewel, dan susah makan.

Hidrosefalus yang didapat atau acquired. Kondisi ini diderita oleh anak-anak dan orang dewasa. Selain penderita akan mengalami mual dan nyeri leher, nyeri kepala juga akan muncul. Nyeri kepala ini biasanya sangat terasa di pagi hari, setelah bangun tidur. Gejala lain dari hidrosefalus tipe ini adalah mengantuk, penglihatan buram, bingung, sulit menahan kemih atau menahan buang air besar, dan sulit berjalan. Jika tidak segera diobati, kondisi ini dapat menyebabkan koma, bahkan kematian.

BACA JUGA: Yanni Poluan, Penderita Kaki Gajah Butuh Uluran Tangan

Leave a Reply