Dr Maya Rumantir MA PhD.
Dr Maya Rumantir MA PhD.

Maya Rumantir, Matahari dari Timur

PUBLIK FIGUR

Senja menyelimuti   kawasan Pegunungan Wulur Mahatus,  wilayah Kecamatan Modoinding, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), medio Juni 2018. Di balik semburat cahaya jingga  sang mentari, yang pelan-pelan memudar, mobil jip yang dinaiki Dr Maya Rumantir MA PhD bersama timnya, mulai melipir jalanan berkelok-kelok. Mantan anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) ini memang diundang oleh rekannya, seorang rohaniwan Nasrani muda, yakni Pendeta Jerry Sanger untuk menghadiri Kebaktian Kebangkitan Rohani (KKR) yang digelarnya bersama Tim Rajawali. Lokasinya  berada di salah satu desa yang berada di lembah pegunungan itu.

Setengah kilometer kemudian, mentari mulai tergelincir di sebelah barat Pegunungan Wulur Mahatus. Namun, cahayanya cukup temaram memperlihatkan jalan tak beraspal yang akan dilewati. Si pengemudi jip, Vahri akrab disapa Om Pala, menghentikan mobil. Lelaki berusia kepala enam yang masih gagah dan bermata tajam bagai rajawali ini, mengernyitkan kening.

“Jalan rusak berat, ada tiang listrik, tapi nyanda (tidak) ada lampunya,” gumamnya, lirih, dalam bahasa Melayu Manado yang medok.

Maya Rumantir, yang duduk di bangku bagian tengah, geleng-geleng kepala.

“Kita sedih melihat kondisi ini. Jalan rusak begini, kasihan rakyat. Dorang (mereka) andalkan jalan ini untuk menghidupkan perekonomian antar desa, ekonomi keluarga. So bagini, listriknya juga nyanda ada. Jadi, buat apa ada tiang listrik, tapi lampunya  tidak dipasang? Benar-benar deh, perlu dipertanyakan sejauh mana kebijakan publik dari pemerintah setempat,” ujarnya, menghela nafas panjang sambil berdecak-decak.

Toh, the show must go on. Karena sudah diundang dan memang tak mau mengecewakan warga desa dan Pendeta Jerry, jip terpaksa harus melewati ruas jalan itu. Om Pala menyetir dengan posisi tubuh agak membungkuk, agar sepasang matanya bisa semakin jelas  mengawasi jalan di depannya.

Senja telah berganti malam. Koor dari jangkrik dan unggas-unggas malam terdengar lamat-lamat menembus kaca-kaca mobil yang berembun. Di balik tempias lampu mobil yang menyoroti jalan, tiang-tiang listrik itu pun seakan menjelma menjadi monster-monster kurus nan hitam. “Mereka’ berdiri kaku di balik kabut  yang menyelimuti celah-celah pegunungan. Mobil pun kerap menari, karena cengkeraman keempat rodanya, lepas  dari tanah liat yang licin, atau terperosok ke dalam lubang-lubang yang masih digenangi sisa-sisa air hujan.

Pdm Friska Siregar STh: Suka Duka Melayani Anak Panti Asuhan

Leave a Reply