Ilustrasi.
Ilustrasi.

Cara Penyidik Menjerat Pelaku Perjudian Internet

Saya lagi meneliti kasus perjudian maya, yang ingin saya tanyakan adalah bagaimana cara pembuktiannya?

Apakah hanya melalui pemenuhan unsur-unsur dalam tindak pidana perjudian?

Apakah bukti transfer dapat dijadikan sebagai alat bukti, mengingat tentunya tidak ada spesifikasi khusus yang menjelaskan adanya transaksi perjudian?

Apakah e-mail dapat dijadikan alat bukti?

Bagaimana dengan hasil tanya jawab/wawancara melalui media telepon yang telah direkam, apakah dapat dijadikan alat bukti?

Sekian pertanyaan saya, saya mohon bantuannya, terima kasih.

Jawaban:

Pada dasarnya pembuktian dalam ranah pidana merupakan usaha untuk mencari kebenaran materil tentang: (1) telah terjadinya tindak pidana dan (2) bahwa tersangka (yang kemudian menjadi terdakwa) adalah pelakunya. Kedua hal ini dibuktikan dengan alat-alat bukti serta dikuatkan dengan keyakinan hakim melalui satu proses peradilan pidana.

Untuk menentukan telah terjadinya tindak pidana, Aparat Penegak Hukum (“APH”) harus membuktikan bahwa tersangka terdakwa telah memenuhi unsur-unsur pidana yang disangkakan atau didakwakan. Pembuktian bahwa unsur-unsur pidana telah terpenuhi juga harus berdasarkan alat-alat bukti yang telah diatur dalam undang-undang serta keyakinan hakim.

Pengaturan perjudian dalam ruang siber diatur dalam Pasal 27 ayat (2) UU No.11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (“UU ITE”), yang berbunyi sebagai berikut:

Setiap orang sengaja dan tanpa hak mendistribusikan, mentransmisikan, atau membuat dapat diaksesnya Informasi atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan perjudian.

Ancaman pidana dari pasal tersebut yakni pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1 miliar (Pasal 45 ayat [1] UU ITE).

Unsur-unsur dan alat bukti

Leave a Reply