Rio Valentino Palilingan, Pemerhati Sejarah dan Budaya Minahasa.
Rio Valentino Palilingan, Pemerhati Sejarah dan Budaya Minahasa.

Kecintaan Terhadap Sejarah dan Budaya Minahasa Harus Diseriusi

Pemerhati Sejarah dan Budaya Minahasa, Rio Valentino Palilingan mengatakan, kecintaan masyarakat Minahasa khususnya generasi muda terhadap sejarah dan budaya Minahasa harus diseriusi. Apalagi kurikulum pendidikan di sekolah, sebagian besar mengajarkan tentang sejarah dan budaya dari luar tanah Minahasa.

“Generasi muda Minahasa harus mengenal sejarah dan budayanya sendiri. Ini harus ditumbuhkembangkan dan menjadi tanggung jawab banyak pihak,” kata Rio kepada publikreport.com, Sabtu, 04 Agustus 2018.

BACA JUGA: Tomohon, Kota Tua Tanah Minahasa

Kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah yang ada di tanah Minahasa, menurut Rio, masih memuat mata pelajaran tentang sejarah dan budaya luar Minahasa bahkan dengan materi bahan ajar yang sudah puluhan tahun silam.

“Materi bahan ajar lokal (sejarah dan budaya Minahasa) tidak kalah kualitas dengan sejarah yang selalu diajarkan kepada anak-anak yang selalu berkiblat pada sejarah Jawa dan Sumatera,” jelasnya, seraya mencontohkan, Perang Diponegoro dan Perang Paderi.

“Perang Diponegoro pada 1825, terjadi pertempuran hanyalah karena pihak kesultanan tidak setuju pembuatan jalan oleh Belanda, karena akan melintasi makam Keluarga Kesultanan. Sedangkan Perang Paderi, adalah perang internal atau perang saudara masyarakat Sumatera Barat sendiri. Saat itu pemimpin Kaum Paderi Tuanku Imam Bonjol memerangi kaum sekuler yang masih menganut adat dan kebiasaan judi, seperti sabung ayam dan lain-lain,” sambung Rio yang merupakan jebolan Fakultas Hukum (FH) salah satu universitas yang ada di Sulawesi Utara seraya mencontohkan.

BACA JUGA: Toudano-Minahasa

Leave a Reply