Rio Valentino Palilingan, Pemerhati Sejarah dan Budaya Minahasa.
Rio Valentino Palilingan, Pemerhati Sejarah dan Budaya Minahasa.

Kecintaan Terhadap Sejarah dan Budaya Minahasa Harus Diseriusi

BACA JUGA: Perjuangan Ketujuh Tokoh Pergerakan Kebangsaan di Makassar dan Serui (Yapen) 1942 – 1946

Jadi, Rio melanjutkan, meskipun perang ini terjadi akibat strategi Belanda yakni Devide Et Impera, namun faktor utama penyebab Perang Paderi tidak cukup untuk dikatakan nasionalis. Demikian halnya dengan Perang Diponegoro.

Hal ini, Rio menjelaskan, sangatlah berbeda dengan Perang Tondano II. Di mana alasan utama terjadinya perang ini karena masyarakat Minahasa sudah tidak mau lagi para pemudanya diikutsertakan Belanda pada perang-perang di Jawa dan Gowa Makassar.

“Saat itu memang para pejuang Minahasa diikutsertakan Belanda dalam memerangi Diponegoro, Hasanudin dan Imam Bonjol. Oleh karena itu ketiga nama Pahlawan Nasional ini sempat ditahan oleh Belanda dan diasingkan di Minahasa. Karena memang pejuang Minahasalah yang membantu penaklukan dan penangkapan mereka. Ini sesuai tulisan N Graafland, Minahasa, Negeri, Rakyat dan Budayanya. Pasukan Minahasa ini tergabung dalam Serikat Minahasa,” bebernya mengutib literasi yang dibacanya.

BACA JUGA: Benteng Moraya Destinasi Wisata Semua Kalangan

Jadi, Rio menegaskan, tidak ada alasan untuk tidak mengangkat Perang Tondano bersama para pemimpin perangnya sebagai peristiwa yang heroik nasional, bahkan para pelaku menjadi Pahlawan Nasional.

“Perang Tondano sangatlah nasionalis. Sangat wajar kemudian kurikulum pendidikan di sekolah lewat bahan ajar bagi anak didik kemudian menitikberatkan pendidikan sejarah dan budaya Minahasa, sebagaimana sudah dicontohkan. Banyak peristiwa heroik di tanah Minahasa yang layak untuk diajarkan kepada generasi muda Minahasa,” ujar Rio yang berdomisili di Desa Sendangan, Kecamatan Remboken, Kabupaten Minahasa. | DORANG

Leave a Reply