Yoseph Ikanubun bersama Ahmad Taufik saat pelaksanaan Festival Media AJI di Bandung, OKtober 2012.
Yoseph Ikanubun bersama Ahmad Taufik saat pelaksanaan Festival Media AJI di Bandung, OKtober 2012.

24 Tahun AJI, dan Kisah Jurnalis Melawan Orde Baru

Sejak itu berdirinya AJI di Jakarta, organisasi ini mulai meluaskan tata organisasi dan gerakannya ke seluruh Indonesia. Demikian pula, para aktivis gerakan mahasiswa dan para jurnalis yang tidak berada di dalam jalur penerbitan media atau koran-koran lokal. Lembaga Swadaya Masyarakat(LSM) yang berada di daerah seperti LBH, WALHI, SMID, PRD.  Dan kelak juga AJI mulai melakukan konsolidasi keorganisasian untuk melakukan perlawanan terhadap penindasan dan sikap otoriter rezim Orde Baru. Buah dari gerakan itu memuncak pada gerakan penumbangan rezim Orde Baru pada Mei 1998.

Kantor LBHI Manado yang berada di kawasan Wanea-Rike menjadi tempat tumpuan para aktivis LSM, mahasiswa dan juga jurnalis. Mereka yang aktif di majalah Tempo dan Forum sejak dibreidel menganggur dan berupaya menerbitkan Koran lokal.

Atas inisiatif Verianto Majowa(koresponden Tempo interaktif), Mustopa (Forum Keadilan), Katamsi Ginano (Republika) dan Reiner Ointoe (eks wartawan Manado Post) ingin mendirikan koran satu lembar (KOBAR) dan kelak berubah menjadi Koran mingguan KABAR setelah memperoleh dukungan dari  Ketua LSM Yayasan Nurani dr. Bert A. Supit.

Dengan diformalkan sebagai koran mingguan KABAR pada akhir 1998, ikut bergabung Pitres Sombowadile dan Suwiryo Ismail. Dengan Koran mingguan ini, kelak pendirian AJI kota Manado banyak didominasi oleh rekan-rekan jurnalis yang bergelut di situ.

Dengan mandat yang diberikan oleh AJI di Jakarta dengan Ketua Lukas Luwarso(Forum Keadilan) dan Sekjen Didik Supriyanto(Detik) kepada Mustopa(koresponden Forum Keadilan) diadakan konferensi AJI Manado pertama pada Oktober 1998.

Kongres yang dilaksanakan di MBH Minahasa sekaligus melantik kepengurusan AJI Manado periode 1998-2000 oleh Ketua AJI Lukas Luwarso. Struktur AJI Kota Manado diketuai Reiner Ointoe, sekretaris Mustopa dengan anggota Verianto Majowa, Katamsi Ginano, Puja Sutamat, Vonny Suoth, Raymond Pasla, Patria Pombengi.

Selang enam bulan jalannya organisasi AJI Manado, sekretaris Mustopa dan beberapa kawan-kawan melakukan mosi tidak percaya ketua AJI kota Manado. Hingga pada awal 1999, AJI Kota Manado ‘’dibekukan’’ oleh SK AJI yang ditanda tangani oleh Lukas Luwarso dan Sekjen Didik Supriyanto.

Pada Kongres AJI kedua di Jakarta pada akhir 1999, Ketua Majelis Kode Etik Satria Arismundar(mantan jurnalis Kompas) meminta Ketua AJI Kota Manado (Reiner Ointoe) yang dibekukan untuk melakukan klarifikasi dan pembelaan. Akan tetapi, karena merasa tidak melakukan kesalahan organisatoris, Ketua AJI Manado menolak untuk melakukan ‘’pleidoi’’ di hadapan kongres AJI.

Leave a Reply