Foto atas: Kaka Slank berbincang dengan Jull Takaliuang, Direktur Yayasan Suara Nurani Minaesa saat konferensi pers di Manado, Sulawesi Utara, Senin, 03 September 2018, tentang permasalahan tambang di Pulau Bangka. (Foto: Themmy Doaly/Mongabay Indonesia)
Foto atas: Kaka Slank berbincang dengan Jull Takaliuang, Direktur Yayasan Suara Nurani Minaesa saat konferensi pers di Manado, Sulawesi Utara, Senin, 03 September 2018, tentang permasalahan tambang di Pulau Bangka. (Foto: Themmy Doaly/Mongabay Indonesia)

Kaka Slank Serukan Pemulihan Lingkungan di Pulau Bangka Sulut

Sejak 5 tahun lalu, Kaka Slank telah melibatkan diri dalam kampanye penyelamatan pulau Bangka, Sulawesi Utara (Sulut). Setelah berbagai keputusan hukum yang berpihak pada masyarakat setempat, dia berharap adanya pemulihan lingkungan di sana. Upaya itu perlu dilakukan karena dampak sedimentasi, penebangan pohon, juga potensi konflik antara warga.

“Setelah putusan sudah final, langkah selanjutnya adalah recovery. Di underwater-nya sempat ada sedimentasi, beberapa area gundul. Bukan cuma (pemulihan) alam, tapi sosial juga karena ada yang terbelah antara pro dan kontra. Luka-luka itu harus diobati,” seru vokalis bernama Akhadi Wira Satriaji dalam konfrensi pers yang digelar di Manado, Sulut, Senin, 03 September 2018.

Agar proses pemulihan lingkungan dan sosial dapat segera dijalankan, dia menilai perlunya kesatuan pandangan antara seluruh lapisan masyarakat. Selain itu, berbagai pihak diharap dapat menahan diri dan tidak terpancing dengan informasi yang memecah belah.

Di saat bersamaan, Kaka meminta Pemerintah Provinsi untuk membuktikan komitmen pembangunan yang berpihak pada lingkungan. Sebab, dalam sejumlah pemberitaan, Gubernur Sulut beberapa kali menyatakan bahwa tidak akan menjadikan pulau Bangka sebagai wilayah pertambangan.

“Justru sekarang harus konsentrasi untuk back to nature. Manusia harus menahan diri untuk tidak bernafsu merusak alam,” ujarnya. “(Kita harus) menyatukan visi, kita tidak butuh tambang. Kita butuh mengembalikan pulau itu seperti dulu, yang bagus, yang beri makan kita setiap hari, yang datangkan tamu wisata setiap hari.”

Kehadiran Kaka dalam konfrensi pers yang diselenggarakan Koalisi Save Bangka Island itu bertujuan menyemangati perjuangan warga dan aktivis lingkungan. Menurut dia, polemik pertambangan beberapa tahun belakangan ini seharusnya sudah menjadi sejarah, dan segera diselesaikan.

“Saya kira, MMP is his-story. Tinggal cerita. Kalau ada isu bahwa pertambangan akan kembali beroperasi, ya, itu his story. Karena pertambangan (di pulau Bangka) sudah ditolak secara hukum,” terangnya.

Bangka adalah pulau dengan luas sekitar 4.800 hektar, namun hampir setengah wilayahnya atau 2.000 hektar kawasan pulau itu sempat dijadikan wilayah pertambangan. Namun, sejak 2013, Mahkamah Agung telah memenangkan gugatan penolak tambang.

Ditambah lagi, ketika Menteri ESDM mencabut Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP OP) PT Migro Metal Perdana, perusahaan tambang di pulau itu, diputuskan bahwa seluruh wilayah seluas 2.000 hektar dikembalikan pada pemerintah.

Potensi Pariwisata

Leave a Reply