APACT 12Th, 13-15 September 2018 di Bali ini dihadiri 30 delegasi dari negara-negara Asia Pasifik. Tema kali ini, ‘Pengendalian Tembakau untuk Pembangunan Berkelanjutan: Memastikan Lahirnya Generasi Sehat’. Kegiatan ini merupakan bentuk komitmen negara-negara Asia Pasifik dalam upaya pengendalian tembakau yang semakin mengkhawatirkan khususnya di Indonesia.
APACT 12Th, 13-15 September 2018 di Bali ini dihadiri 30 delegasi dari negara-negara Asia Pasifik. Tema kali ini, ‘Pengendalian Tembakau untuk Pembangunan Berkelanjutan: Memastikan Lahirnya Generasi Sehat’. Kegiatan ini merupakan bentuk komitmen negara-negara Asia Pasifik dalam upaya pengendalian tembakau yang semakin mengkhawatirkan khususnya di Indonesia.

Selamatkan Anak dan Perempuan dari Ancaman Rokok

BALI, publikreport.com – Data 2017, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, sebanyak 2-3 dari 10 anak Indonesia usia 15-19 tahun merupakan perokok aktif. Sedangkan data Sirkesnas, 2016 menunjukkan, jumlah perokok usia anak (di bawah 18 tahun) juga meningkat dari 7,2% pada 2013 menjadi 8,8% di 2016.

Fakta yang juga mengkhawatirkan, yakni data Susenas, 2016, menyebutkan, 34,71% anak usia 5-17 tahun diketahui menghisap lebih dari 70 batang rokok perminggu.

Data-data ini diungkapkan, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenPPPA) RI, Yohana Yembise pada 12th Asia Pasific Conference on Tobacco or Health (APACT12th) yang akan berlangsung 13-15 September 2018 di Nusa Dua, Bali.

“Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), telah menetapkan pengendalian rokok sebagai salah satu program prioritas. Hal ini disebabkan tingginya jumlah anak yang terkena dampak bahaya rokok di Indonesia,” tegas Yohana melalui siaran pers Bagian Publikasi dan Media KemenPPPA yang diterima publikreport.com, Kamis, 13 September 2018, sore.

Data Kemenkes 2016, juga menyebutkan, Yohana mengungkapkan, 32,82% siswa laki-laki dan 17,32% dari seluruh jumlah siswa di Indonesia, merokok untuk pertama kali pada usia dibawah 13 tahun, umumnya di bangku sekolah dasar. Selain itu, sekitar 49% atau 43 juta dari total 87 juta anak di Indonesia telah terpapar asap rokok (perokok pasif). 11,4 juta atau 27% diantaranya, merupakan anak berusia dibawah 5 tahun atau balita.

“Tembakau maupun rokok merupakan zat berbahaya, yang berdampak buruk bagi kesehatan anak di masa depan, bahkan dapat menyebabkan kematian. Dampak penggunaan rokok baru akan dirasakan 15-20 tahun mendatang, saat anak menginjak usia produktif,” jelasnya.

BACA JUGA: Sulit Berhenti Merokok, Coba 7 Cara Ini

Data Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia, 2018, Yohana melanjutkan, 225.700 orang meninggal dunia setiap tahun akibat rokok di Indonesia, dan 7% nya, atau sekitar 15.844 orang adalah perempuan. Hal ini membuktikan bahwa tidak hanya anak, perempuan juga termasuk kelompok rentan, yang menjadi second-hand smoke (perokok pasif) dan berisiko lebih berbahaya dibandingkan first-hand smoke (perokok aktif).

“Perlindungan terhadap tembakau pun tidak hanya ditargetkan kepada anak, tetapi juga kepada perempuan,” ujarnya.

BACA JUGA: Merasa Jadi Korban Diskriminasi, Perokok Bentuk Lembaga Ini

KemenPPPA, menurut Yohana, terus mendorong pemenuhan hak dan perlindungan khusus anak serta meningkatkan peran perempuan dalam pembangunan berkelanjutan melalui pengarusutamaan gender. Mengingat perempuan merupakan kunci dalam mencetak generasi emas yang sehat dan berdaya saing di masa mendatang. Perempuan harus berdaya dan mampu melindungi diri maupun anaknya dari bahaya rokok.

Leave a Reply