Ilustrasi. Rumah adat Minahasa.
Ilustrasi. Rumah adat Minahasa.

Gempa Pernah Hancurkan Minahasa

Minahasa sempat dilanda gempa bumi paling hebat dalam sejarah bumi malesung. Gempa bumi ini terjadi pada, Sabtu, 08 Februari 1845 yang merusak dan memporak-porandakan hampir seluruh tanah Toar-Lumimuut. Korban tewas puluhan orang, sedangkan ratusan lainnya mengalami luka-luka dan ribuan orang kehilangan tempat tinggal.

Penulis terkenal Nicolaas Graafland menunjuk episentrum gempa berasal dari Gunung Lokon (sama halnya dengan cerita rakyat di banyak negeri Tombulu). Namun, Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat pusat gempa berada di Laut Sulawesi pada koordinat 1.48 derajat lintang utara dan 124.85 derajat bujur timur.

Perbedaan juga terjadi pada waktu kejadian gempa. BMKG menyebut pada jam 07.30 WITA, pagi. Namun, berita-berita diberbagai koran di Pulau Jawa dan Negeri Belanda menyebut gempa dimulai pukul 15.30 WITA, sore. Kekuatan gempa dicatat 7 skala richter.

BACA JUGA: Tomohon, Kota Tua Tanah Minahasa

Akibat gempa ini merusak rumah-rumah Minahasa yang terbuat dari kayu, benteng Fort Amsterdam rusak parah, kemudian dibangun kembali direnovasi dan diberi nama Nieuwe Amsterdam, rumah kediaman residen sekaligus kantor, meruntuhkan bangunan besar di Lotta, ibukota Distrik Kakaskasen (sekarang Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa). Saat itu dibangunan itu sedang ada pesta dengan undangan ratusan orang. Hanya satu orang (wanita) yang selamat.

BACA JUGA: Wilayah Bukit Inspirasi Awal Mula Peradaban Minahasa?

Gempa juga merusak rumah gubernemen (Loji)  di Tondano, gereja Tondano, benteng di Amurang, jalan dan jembatan Manado-Amurang.

BACA JUGA: ‘Pabrik-pabrik’ Waruga di Tomohon Tempo Dulu

Dikisahkan pula puncak Gunung Lokon terbelah dan terjadi longsoran. Dan Pegunungan Tolangkow (antara Tomohon dan Pangolombian) terjadi retakan dan sebagian tanah amblas.

Pascagempa dahsyat itu, hampir setiap hari terjadi gempa susulan di Minahasa. Gguncangan terakhir terjadi pada 17 Februari 1845 sekitar jam 12.00 WITA. | ADRIANUS KOJONGIAN

Leave a Reply