Ilustrasi.
Ilustrasi.

Kokohnya ‘Kerajaan’ Perjudian Togel

KRIMINALITAS

“Adoh, salah satu angka. Bagini tembus ampa angka,” demikian salah satu percakapan yang sempat terdengar.

“Nda banya. Mar, kalu tembus empat angka, ‘kaya’ kita”. Ini dapa doi rokok. Cuma dua angka”.

***

 “Bro, so maso sair dari…? (menyebut salah satu nama dan tempat). Bagus kwa depe sair itu. Banyak orang ja tembus dua angka, malah ada yang sampe empat angka,” tanya Alo (nama khayalan) yang sehari-hari dikenal sebagai petani.

“Dorang blum datang. Sadiki ley sto dorang bawa,” jawab Utu (nama khayalan), pemilik warung.

“Kiapa ley kwa mo pake-pake sair. Kita ada mimpi bagus tadi malam (seraya menceritakan mimpinya),” sambung Buang (nama khayalan), yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang bangunan.

Mendengar ada mimpi bagus, mereka kemudian membahasnya, merumuskannya dengan macam-macam tebakan menjadi angka-angka prediksi. Angka-angka ini kemudian ditulis ke kertas masing-masing dan disodorkan ke tempat pemasangan togel (toto gelap).

Di tempat lain, sambil mengutak-atik handphone dan smartphone, Iwan dan Nico (keduanya nama khayalan) merumuskan gambar yang dikirimkan seseorang. Gambar dengan garis-garis tidak teratur itulah ternyata yang oleh mereka disebut sair togel.

“Brapa kote Anu pe nomor (menyebut nama tempat pemasangan togel)?” tanya Iwan kepada Nico.

“Tu hari dang kita so kase. Nda simpang so?” jawab Nico.

“So ilang. Soalnya kita kan ja ba pasang pa orang laeng. Mar sekarang kita mo pasang pa dia. Soalnya dengar-dengar bagus kalu pasang pa dia. Kalu kena, doi dorang langsung bawa. Nda lama-lama. Mana kwa depe nomor,” jelas Iwan.

“Nda lama. Ba ganggu orang pe konsentrasi ngana ni dia eee…”

“Napa tu nomor. Kalu mo ba pasang pa dia SMS jo atau WA, mar kase tahu ngana pe nomor deng diri (identitas) pa dia,” kata Nico, seraya menyebut sejumlah nomor salah satu telepon selular.

Bandar Besar Judi Togel ‘Kuasai’ Sulut

Leave a Reply