Ilustrasi. (shuttestock)
Ilustrasi. (shuttestock)

Malaria: Kenali Gejala, Obat, dan Pencegahannya

Gejala malaria biasanya mulai sekitar 10 hingga 15 hari setelah gigitan nyamuk. Tanda-tandanya akan mirip dengan gejala pilek dan flu, seperti sakit kepala, kelelahan, dan pegal-pegal.

Tapi dalam beberapa hari akan muntah-muntah, diare, kulit yang menguning (jaundice) karena kehilangan sel darah merah, lalu bisa jadi gagal ginjal. Paling ekstrem malaria bisa menyebabkan mengalami koma.

Perlu kepekaan dan kewaspadaan jika berada di daerah yang rawan malaria, karena gejala malaria tidak selalu muncul dalam 2 minggu. Orang-orang yang tinggal di daerah dengan banyak kasus malaria juga terkadang sudah menjadi kebal karena sudah sering terpapar.

Pencegahan Malaria

WHO merekomendasikan beberapa pencegahan yang bisa dilakukan. Menurut WHO pencegahan itu bisa dilakukan dengan tidur dengan memakai kelambu. Namun yang paling direkomendasikan adalah kelambu insektisida atau Long-lasting insecticidal nets (LLIN). Cara ini harus ditanggapi dengan baik oleh pemerintah yaitu dengan menyediakannya secara gratis.

Lalu, penyemprotan dalam ruangan dengan insektisida residu. Indoor residual spraying (IRS) dengan insektisida adalah cara ampuh untuk mengurangi penularan malaria dengan cepat. Penyemprotan bila dilakukan selama 3-6 bulan, tergantung pada formulasi insektisida yang digunakan dan jenis IRS yang disemprotkan.

Obat Antimalaria menjadi pencegahan yang paling banyak dipakai. Karena obat ini dapat mencegah dengan ampuh. Untuk ibu hamil yang tinggal di daerah transmisi sedang hingga tinggi, WHO merekomendasikan pengobatan pencegahan intermiten dengan sulfadoksin-pirimetamin, pada setiap kunjungan antenatal yang dijadwalkan setelah trimester pertama. | TIRTO.id

Leave a Reply