Peserta lomba sapu laut dan bersih sampah Pulau Bunaken, berhasil mengumpulkan sebanyak 1.270 kilogram sampah dari laut dan darat di sekitar Pantai Liang, Bunaken. Lomba menyambut HUT Provinsi Sulut ke-54 ini dilaksanakan, Jumat, 07 September 2018.
Peserta lomba sapu laut dan bersih sampah Pulau Bunaken, berhasil mengumpulkan sebanyak 1.270 kilogram sampah dari laut dan darat di sekitar Pantai Liang, Bunaken. Lomba menyambut HUT Provinsi Sulut ke-54 ini dilaksanakan, Jumat, 07 September 2018.

Maraknya Pariwisata di Sulut, Bagaimana Menjaga Lingkungan?

Tingginya angka kunjungan wisatawan mancanegara ke Sulawesi Utara (Sulut), perlu diimbangi dengan pelibatan masyarakat lokal dalam ekowisata serta promosi destinasi wisata alternatif. Hal itu dipercaya sebagai solusi untuk menekan dampak lingkungan akibat pariwisata massal (mass tourism).

Pernyataan tersebut disampaikan sejumlah aktivis konservasi dan praktisi pariwisata dalam workshop bertema “Penguatan Ekonomi Masyarakat Pesisir Berbasis Konservasi” yang digelar di Manado, Rabu, 05 Desember 2018.

Data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Oktober 2018, kunjungan wisatawan mancanegara yang masuk melalui pintu bandara Sam Ratulangi sebanyak 8.342 orang. Meski turun 34,47 persen dibanding bulan sebelumnya, namun angka itu tetap lebih tinggi dibanding kunjungan wisatawan mancanegara pada Oktober 2017.

Ditambah lagi, secara kumulatif, hingga Oktober 2018, kunjungan wisatawan mancanegara ke Sulut berjumlah 107.520 orang. Angka ini meningkat dibanding pada kurun yang sama tahun 2017, yaitu 64.357 orang.

Statistik tadi melahirkan sejumlah kecemasan, misalnya, penumpukan wisatawan pada destinasi wisata unggulan daerah. Salah satunya terjadi di Taman Nasional Bunaken. Sehingga, tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan, berkah wisata dikhawatirkan dapat berbalik menjadi ancaman kerusakan ekosistem.

“Kita sudah tahu risiko mass tourism,” ujar Roy Berty Koleangan, Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia Sulut, ketika diwawancarai Mongabay. “(Pemerintah daerah) perlu mengembangkan destinasi baru. Bunaken memang sudah terkenal, tapi tamu harus disebar ke berbagai lokasi agar eksosistem tidak rusak.”

Tantangan lain yang dihadapi adalah ketidakberimbangan antara jumlah wisatawan dengan pemandu wisata di Sulawesi Utara. Roy menyebut, hingga saat ini, baru 254 orang yang teridentifikasi sebagai pemandu wisata lokal.

“Dilihat dari jumlahnya belum sebanding. Yang juga jadi persoalan, banyak yang belum menggunakan guide lokal,” tambahnya.

“Tapi tidak bisa asal main tambah guide. Kalau (pemandu lokal) tidak mampu tidak bisa dipaksakan,” terang Roy.

Leave a Reply