Patung opo/dotu Tololiu berdiri megah di bundaran persimpangan jalan yang berada di Kelurahan Matani III, Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). (foto: publikreport.com)
Patung opo/dotu Tololiu berdiri megah di bundaran persimpangan jalan yang berada di Kelurahan Matani III, Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). (foto: publikreport.com)

Nimawanua, Kota Tua Tomohon

Masa hidup Tonaas Tololiu, disebut saat Spanyol telah menjejakkan kakinya di Tanah Minahasa. Untuk mengantisipasi serangan, Tololiu memperkuat benteng Tomohon di Nimawanua dengan membendung sungai Ranowangko, membangun Istambak (stambak) di utara Tomohon lama. Istambak di masa berikut berfungsi untuk pengairan.

Ada versi, Tonaas Tololiulah yang di tahun 1606 ditemui ekspedisi Spanyol dipimpin Pembantu Letnan Cristoval Suares. Tololiu disebutnya sebagai ‘raja’, masih menganut agama alifuru dan berhasrat menjadi Kristen.

Di ketinggian Istambak, berada tempat Raragesan penduduk Tomohon tempo dulu yang disebut juga Watu Pa’lalesan ne Tou Puuna, sebagai tempat ibadah penduduk masa lalu. Namun, lokasi Istambak ini sejak tahun 2006 silam mulai diratakan.

Sementara, di Lewet Kolongan, bagian belakang Rumah Sakit dan ‘Akper ‘Gunung Maria’, berada lokasi dipercayai tempat latihan para pahlawan Tomohon masa lalu. Antaranya, Tonaas Tumalun, tokoh legendaris Tomohon yang berhasil mengayau kepala pahlawan raksasa Remboken dari Pareipei bernama Malonda. Di lokasi ini dulu Tumalun serta para pemuda Tomohon digodok bermacam ilmu bela diri serta kekebalan sebelum dikirim berperang atau mengambil garam di Manado.

Di dekatnya kini, masuk Loko-Lokon Kolongan berada batu setinggi dua meter yang dihadiskan sebagai batu perempuan alias batu Lumimuut. Sedangkan batu laki-lakinya (Toar), terpisah hampir setengah kilometer di Kamasi di dekat aliran sungai Ranowangko. Kendati demikian, ada tuturan lain, kedua batu itu adalah batu suami-istri bernama Mararesak, yang di masa lalunya berkediaman di dekat mata air yang hingga kini bernama Mararesak, di persipatan Kelurahan Kolongan-Kamasi.

Situs penting lain yang pernah ada di Nimawanua adalah bekas-bekas parit pertahanan dan posongworang (posong=tebing pertahanan). Lokasi tersebut dikisahkan menjadi tempat pertahanan dari Opo Worang, tonaas yang diwarugakan di Kakaskasen. Dulunya disitu dipenuhi oleh ranjau bambu ditanam, untuk jebakan musuh yang berani menyatroni Tomohon di Nimawanua.

Dotu Mandei, salah seorang tokoh mitos penting Tombulu, disebutkan juga bermukim di lokasi yang kini disebut Mandei, di selatan Nimawanua. Tempat ini pun dipercayai sebagai Puser in Tanah Minahasa. Di dekatnya ada tempat yang dikenal sebagai Batu sein Mandei, dipercayai tempat Dotu Mandei memberi tanda-tanda dan kode untuk penduduk Minahasa.

Lalu di dekatnya, ada lokasi bernama Reko, dikaitkan dengan anak Mandei bernama Reko. Berdekatan dengan Mandei dan Reko ini, di lokasi bernama Maktiau berada lima buah kuburan yang dipercaya salahsatunya adalah waruga Dotu Mandei, bersama anaknya Reko, dan keluarga lainnya.

Sedangkan di Kamasi berada Pinati, yang menjadi tempat pembuatan dan pengambilan waruga penduduk Tomohon di masa lalu. Menariknya, adalah ternyata kebanyakan lahan-lahan di Nimawanua ini hingga tahun 1970-an masih dimiliki oleh kebanyakan penduduk Kelurahan Kamasi. Kebalikannya, tanah milik penduduk Kelurahan Kolongan justruterbanyak berada di Kamasi (Lewet dan Kampung Baru, kini Kamasi II). Sementara, secara administratif pemerintahan, bekas kota lama Tomohon hingga tahun 1920-an masih menjadi wilayah Kepolisian Matani. Lalu di serahkan Hukum Tua Matani Ibrahim Tuelah (versi lain Hukum Tua Nathanel Anes) menjadi kepolisian Kolongan. | ADRIANUS KOJONGIAN (adrianuskojongian.blogspot.com)

Leave a Reply