SM alias Syamsudin (16), korban penganiayaan dari oknum-oknum. (foto publikreport.com)
SM alias Syamsudin (16), korban penganiayaan dari oknum-oknum. (foto publikreport.com)

LPA Sulut: Tindak Tegas Oknum Aparat ‘Penculik’ dan ‘Penyiksa’ Anak

HUKUM

TAHUNA, publikreport.com – Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulawesi Utara (Sulut), Jull Takaliuang mengecam keras perbuatan yang dilakukan oknum aparat penegak hukum kepada salah satu anak di Sangihe. Menurutnya, itu adalah tindakan ‘biadab’ dan barbar yang melampaui batas-batas kemanusiaan.

Aparat penegak hukum harus memproses hukum oknum aparat itu. Apalagi korban penganiayaan adalah anak-anak,” serunya.

Tindakan tegas dan proses hukum tanpa pandang buluh harus dilakukan, Jull menilai, karena Sangihe tercatat sebagai penyumbang pelaku kekerasan yang tergolong sadis kepada anak-anak. Jika tidak, kelakuan-kelakuan barbar terhadap anak-anak akan selalu terulang.

“Perlu efek jera bagi pelaku,” tegasnya.

Pemerintah maupun elemen lainnya, Jull berharap dapat memberikan penanganan secara phisikis maupun fisik kepada korban-korban penganiayaan.

“LPA meminta peran pemerintah (dinas sosial dan dinas kesehatan) untuk membantu pemulihan korban. Apalagi korban adalah anak yatim piatu,” imbaunya.

Dijemput’ aparat’

Pagi hari itu, Syamsudin Makaluas (16) tidak menyangka akan terjadi sesuatu yang cukup ‘mengerikan’ pada dirinya. Jumat 15 Maret 2019, sekitar jam 09.30 WITA, anak ini dijemput lelaki PM alias Pang dan dibawa ke sebuah tempat di mana tertancap baliho calon legislatif (caleg). Syamsudin dituduh telah mencoret baliho itu.

Dari situ, anak yatim piatu ini kemudian dibawa oknum aparat penegak hukum, AKM alias Abdul ke rumahnya di Kampung Naha. Tiba di rumah yang lokasinya tak jauh dari bandar udara (bandara), Syamsudin diinterogasi seraya diduga‘disiksa’.

Disuruh pushup, banyak kali. Lalu ditanya siapa yang suruh coret baliho, saya jawab tidak ada, lalu saya ditempeleng. Sesudah ditempeleng, disuruh pushup lagi,” cerita Syamsudin yang masih terkapar menahan sakit di rumah keluarganya yang berada di Kampung Bahu, Kecamatan Tabukan Utara, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Senin 25 Maret 2019. Syamsudin sendiri mengaku dirinya menulis sebuah tulisan kecil di baliho caleg itu.

Masih dalam posisi pushup, tiba-tiba Syamsudin melihat seorang lelaki berbadan besar (gendut), bertato datang dan langsung menendangnya kakinya hingga dirinya tergeletak tak berdaya.

“Kaki saya bengkak karena ditendang sewaktu sementara menjalani pushup. Yang menendang pria bertato berbadan besar datang dengan mobil,” tuturnya.

Siksaan’, menurut Syamsudin, berlanjut di dalam garasi mobil. Di sini dirinya disuruh jongkok dan ada orang yang datang menamparnya.

Leave a Reply