Ilustrasi.
Ilustrasi.

Rumah Ibadah Bukan Tempat Kampanye

RELIGI | POLITIK

AIRMADIDI, publikreport.com – Mendekati hari H Pemilihan Umum (Pemilu), Rabu 17 April 2019, sejumlah tim sukses maupun dari para calon legislagif (caleg) mulai melakukam sosialisasi atau kampanye kepada masyarakat. Ironisnya, kampanye ini pun diduga mulai dilakukan dalam rumah ibadah sehingga membuat masyarakat mulai gerah. Sebab, kampanye terselubung dalam rumah ibadah akan menimbulkan perpecahan antar jemaat.

Menanggapi hal ini, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setdakab Minahasa Utara (Minut), Rivino Dondokambey menilai, beberapa denominasi gereja salah satunya Gereja Masehi Injil di Minahasa (GMIM) sudah menerbitkan surat himbauan agar jemaat dan ketua jemaat tidak menjadikan gereja sebagai tempat berpolitik.

Bagi pendeta, sanksinya juga ada, berupa larangan untuk berkhotbah dalam kurun waktu tertentu,” katanya.

BACA JUGA: Ketua MUI Sulut: Masjid Bukan Untuk Kegiatan Politik

BACA JUGA: Pimpinan Agama Terima Insentif

BACA JUGA: Tokoh Agama Serukan Pemilu Damai

Kepada para caleg, Rivino meminta, agar bisa menghormati rumah ibadah dan jemaat. Pihak Bawaslu pun diminta agar lebih meningkatkan pengawasan.

“Mari kita ciptakan Pemilu 2019 ini dengan damai,” tambahnya. | GLENLY B

Leave a Reply