Kondisi ruas jalan antara Kelurahan Wailan dan Kayawu, Kecamatan Tomohon Utara, Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Jalan ini selalu rusak, meski belum lama diperbaiki. (foto: publikreport.com)
Kondisi ruas jalan antara Kelurahan Wailan dan Kayawu, Kecamatan Tomohon Utara, Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Jalan ini selalu rusak, meski belum lama diperbaiki. (foto: publikreport.com)

Mengapa Ruas Jalan Wailan-Kayawu Selalu Rusak?

TOMOHON, PUBLIKREPORTcom – Warga Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), khususnya yang kerap melewati ruas jalan Kakaskasen-Kayawu mengaku heran dengan kondisi aspal disekitar Goa Jepang antara Kelurahan Wailan dan Kayawu, Kecamatan Tomohon Utara.

“Sejak ruas jalan ini diaspal (hotmix) sekitar 15 tahun yang lalu, hampir setiap tahun ruas jalan antara Wailan dan Kayawu ini diperbaiki. Namun anehnya, setiap tahun jalan ini rusak,” kata Jendry Poluan, warga Kelurahan Wailan, Sabtu 25 Mei 2019.

Hal senada diutarakan, Tole Gigir, warga Lingkungan IV, Kelurahan Kayawu.

“Pertama kali diaspal, belum satu tahun aspalnya retak-retak dan kemudian hancur. Setelah itu ada penempelan beberapa kali bahkan pembongkaran ulang. Tapi selalu bertahan cuma sekitar satu hingga dua tahun. Heran, padahal kontraktornya sama,” ungkapnya.

Tahun lalu (2018), menurut Tole, jalan ini sudah diperbaiki, namun hanya sekitar 300 meter yang ditambal.

“Coba lihat sendiri keadaannya sekarang. Diduga mereka memakai aspal rusak ketika ‘memperbaiki’ jalan ini. Aspal yang dipakai disinyalir sudah tidak layak pakai diproyek yang lain dan dibuang kesini,” ujarnya.

Fredy Hiwoi, salah satu pekerja perbaikan jalan mengatakan, sekitar sepuluh tahun lalu, dirinya kebetulan memeriksa truk pengangkut aspal yang akan dipakai di ruas jalan antara Wailan dan Kayawu.

“Saya kaget waktu periksa panas aspal yang tinggal sekitar 20-30 derajat. Karena dengan suhu seperti itu, aspal dinyatakan sudah rusak dan tidak bisa dipakai lagi. Kalau dipakai, itu hanya bertahan 2-3 bulan,” jelasnya.

Hot Mix Asphalt (HMA) yang dipanaskan pada kisaran 300-330 derajat, Fredy mengungkapkan, harus dipakai dalam suhu minimal 120 derajat.

“Saya ikuti trus. Sepertinya ruas jalan itu jadi tempat buangan aspal rusak,” katanya.

Salah satu pegiat Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Berty Supit menduga kontraktor pelaksana tidak becus dalam pekerjaan, namun tetap dipertahankan Dinas Pekerjaan Umum (DiniPU) Kota Tomohon.

“Ini bisa dijadikan patokan, seperti apa kapasitas Dinas Pekerjaan Umum Kota Tomohon. Sebenarnya rakyat harus berani bersuara. Sayangnya warga disekitar ruas jalan itu tidak berani pada pemerintah,” ujarnya. | JOPPY JW

Leave a Reply