Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenPPPA), Yohana Yembise pada The 2nd Global Conference on Teaching Assesment and Learning in Education di Universitas Pendidikan Ganesha, Bali.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenPPPA), Yohana Yembise pada The 2nd Global Conference on Teaching Assesment and Learning in Education di Universitas Pendidikan Ganesha, Bali.

Ibu Siram Anak dengan Air Panas

KRIMINALITAS

DEPOK, PUBLIKREPORTcom – CA anak berusia 11 tahun, terbaring di Rumah Sakit Umum (RSU) Fatmawati, Jakarta, karena menderita luka bakar akibat disiram air panas oleh ibu asuhnya. Nasib nahas korban ditengarai karena kekesalan sang ibu kepada korban yang membuat adiknya menangis. Tak hanya luka bakar, korban juga menderita luka lebam akibat pukulan dan tamparan dari ayah asuhnya.

Menanggapi peristiwa memilukan ini, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenPPPA), Yohana Yembise, Kamis 29 Mei 2019, menurunkan tim untuk meninjau secara langsung proses pendampingan dan penyelesaian kasus yang dilakukan oleh pemerintah daerah setempat serta memastikan agar anak terlindungi dan tetap terpenuhi hak-haknya.

“Ananda CA harus mendapatkan perlindungan dari tindakan kekerasan yang selama ini dialaminya. Pelaku harus segera ditemukan dan diproses secara hukum. Kita semua perlu bekerjasama untuk kembali memulihkan kondisi ananda CA, baik fisik maupun psikologisnya. Kita harus pastikan ananda CA dapat bermain dan belajar layaknya anak-anak yang lain,” tegas Yohana melalui siaran pers Bidang Publikasi dan Media Kementerian PPPA yang diterima publikreport.com, Jumat 31 Mei 2019.

Sekretaris Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Depok, Fitrianingsih menginformasikan, sebelum diasuh oleh pelaku, korban merupakan anak telantar yang menghabiskan waktunya di jalan. Kekerasan yang dialami korban diketahui bukan kali pertama ia dapatkan. Sejak tahun 2018, pertama kali korban diasuh oleh pasangan K dan A, korban telah mendapatkan kekerasan fisik dari orangtua asuhnya. Korban diminta melakukan semua pekerjaan rumah tangga seperti membersihkan rumah, mencuci hingga menjaga adiknya yang masih berusia 1 tahun.

Kedua orang tua asuhnya tidak segan memukul atau menamparnya saat korban melakukan kesalahan dan menolak mengerjakan perintah. Hingga puncaknya terjadi peristiwa penyiraman air panas yang mengakibatkan 40% dari tubuh korban menderita luka bakar.

Luka yang diderita korban memicu kecurigaan dan mendorong warga melaporkan kasus ini ke pengurus RW (rukun warga) hingga pihak kepolisian. Saat ini kedua orang tua korban belum bisa ditemukan dan masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) Kepolisian Resort (Polres) Kota Depok.

“Yang terpenting dan menjadi fokus kita saat ini adalah pemulihan kesehatan korban. Kita juga harus memastikan keamanan dan kenyamanan korban. Keamanan korban juga perlu kita perhatikan, mengingat hingga saat ini kepolisian belum berhasil menemukan pelaku. Selain itu, kita juga perlu memastikan pemulihan kondisi psikologis korban. Karena secara tidak langsung kekerasan yang dialami oleh korban selama satu tahun terakhir ini akan berpengaruh pada kesehatan mentalnya. Kita harus benar-benar memastikan tidak ada trauma dalam diri korban akibat persitiwa ini,” ujar Asisten Deputi Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Eksploitasi Kementerian PPPA, Valentina Gintings ketika melakukan tinjauan langsung ke rumah sakit tempat korban dirawat.

Leave a Reply