Suasana Manado di tahun 1890.
Suasana Manado di tahun 1890.

Manado Tahun 1831

Kondisi Manado pasca Perang Diponegoro, menggambarkan Manado mulai menarik perhatian pejabat dan orang-orang Belanda, karena terdapat kurang lebih 100 penduduk (kepala keluarga) Belanda dan Eropa lainnya sebagai pemukim. Berbeda keresidenan lain yang penduduk Eropa-nya sedikit.

Keresidenan Manado setelah turun status di tahun 1819 – tinggal sebagai wilayah bagian Ternate diperintah Asisten Residen – kembali mandiri dari Keresidenan Ternate. Ini terjadi setelah Gubernur Jenderal Hindia Belanda, GAG Ph Baron van der Cappelen datang berkunjung ke Manado.

Dengan keputusannya, tanggal 14 Juni 1824 Nomo4 1 (Staatsblad Nomor 28a), Manado dan juga Gorontalo menjadi Keresidenan Manado, dibawah otoritas lebih tinggi dari Gubernur Kepulauan Maluku di Ambon. Johannes Wenzel diangkat sebagai pejabat (waarnemend) Residen. Ia baru didefinitifkan pertengahan Februari 1825.

Lalu, Lembaga Land of Minahasa Raad (ditulis Manahassa Raad) yang pernah ada sebelumnya dibentuk ulang dengan beslit Menteri Negara dan Komisaris Jenderal Hindia Belanda, tanggal 22 September 1828, Nomor 20 (Staatsblad Nomor 47). Residen Manado bertindak langsung sebagai ketua. Selain residen, anggotanya dua orang ambtenar atau penduduk lain (Belanda), ditambah Kepala Balak Minahasa, biasanya para Kepala Balak dikawasan Manado.

Land of Minahasa Raad tidak sama dengan Minahasa Raad yang dibentuk tahun 1919, sebagai lembaga dewan rakyat masa kolonial, tapi merupakan pengadilan yang kemudian dikenal dengan nama Landraad.

Di tahun 1831, Gubernur Jenderal yang berkuasa adalah Letnan Jenderal Johannes van den Bosch yang terkenal mengkayakan Negeri Belanda dengan Culture Stelsel-nya Sedagnkan Gubernur Kepulauan Maluku adalah AA Ellinghuijzin (1829-1836). Di Keresidenan Manado, Residen Mr Daniel Francois Willem Pietermaat baru digantikan oleh Joan Pieter Cornelis Cambier. Status Cambier belum definitif residen, tapi masih sebagai pejabat (waarnemed).

Cambier, kelahiran tanggal 14 Januari 1791, baru definitif menjadi Residen Manado di tahun 1835. Ia memangku jabatannya hingga bulan Juni 1842, dan meninggal 22 Desember 1842. Isterinya bernama Wilhelmina Neijs yang dikawininya di Ternate pada tahun 1832. Wilhelmina adalah janda Carolus Broers, dan putri mantan Residen Ternate, Johannes Alexander Neijs.

BACA JUGA: Nimawanua, Kota Tua Tomohon

Leave a Reply