Sampah yang mengotori laut merupakan salah satu ancaman nyata kehidupan Coelacanth. (Foto: Christopel Paino/Mongabay Indonesia)
Sampah yang mengotori laut merupakan salah satu ancaman nyata kehidupan Coelacanth. (Foto: Christopel Paino/Mongabay Indonesia)

Program Pengurangan Sampah di Laut dari Sungai. Seperti Apa?

Komitmen Indonesia untuk mengurangi produksi sampah di lautan semakin menguat setelah Pemerintah Indonesia menjalin kerja sama dengan Pemerintah Belanda untuk menggelar program penelitian dan percontohan intersepsi sampah plastik di sungai. Program tersebut akan dilaksanakan di Cengkareng Drain, Pantai Indah Kapuk, DKI Jakarta dengan menggunakan river cleaning up system (RCS).

Pemerintah Indonesia yang diwakili Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), menjalin kerja sama dengan Kementerian Infrastruktur dan Lingkungan Belanda. Kerja sama tersebut, akan berfokus pada pengurangan produksi sampah di sungai yang berakhir di lautan lepas.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, dengan digelarnya program penelitian tersebut, tekad Indonesia untuk mengurangi produksi sampah plastik di laut hingga 70 persen pada 2025 mendatang, diyakini akan tercapai. Optimisme itu muncul, karena penelitian tersebut akan fokus pada sistem pengurangan sampah di laut.

Nanti BPPT (Balai Pengkajian dan Penerapan Teknologi) kita minta untuk merancang lagi apa yang perlu dari barang ini dari pengalaman kita terkait sampah ini, yang perlu kita tambah atau kurangi. Kalau kita laksanakan, akan banyak sekali dampaknya,” ungkapnya beberapa pekan lalu.

BACA JUGA: AEON Jepang Berkunjung, Kalimpesan Masih Banyak Sampah

Luhut mengatakan, dilaksanakannya proyek percontohan di Cengkareng Drain, tidak lain karena Pemerintah ingin membuktikan kinerja RCS yang diketahui sangat efektif dalam mengurangi produksi sampah plastik di laut. Teknologi tersebut, bisa menghasilkan data sebenarnya sampah yang ada di sungai, dan sekaligus mendapatkan solusi pengelolaan sampah secara terpadu.

Adapun, kinerja RCS yang dimaksud, menurut Luhut, tidak lain adalah ekstrasi limbah dan plastik dari sungai dan juga bagaimana kinerja manajemen limbah untuk memilah plastik dari limbah lain. Dengan demikian, hasil ekstraksi dan pemilahan tersebut kemudian bisa didaur ulang atau dibuang dengan cara yang ramah lingkungan.

Seluruh Sungai

Leave a Reply