Tanaman pala di Kabupaten Minahasa Utara (Minut), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).
Tanaman pala di Kabupaten Minahasa Utara (Minut), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

Minut Pilot Project Pala

MANADO, publikreport.com – Kabupaten Minahasa Utara (Minut), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) akan menjadi pelaksana pilot project pala. Apalagi Sulawesi Utara (Sulut) merupakan salah satu daerah penghasil pala di Indonesia, selain Aceh, Sulawesi Tengah (Sulteng), Maluku, Maluku Utara (Malut) dan Papua.

Demikian diungkapkan Hubungan Masyarakat (Humas) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulut, Arnold C Turang, mengutib uraian Direktur Perlindungan Tanaman Kementerian Pertanian (Kementan), Dedy Gunady pada Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Kawasan Perkebunan melalui Pilot Project di kawasan Minut. FGD ini berlangsung pada Senin 24-Selasa 25 Juni 2019, bertempat di Lagoon Hotel, Manado.

Ada enam daerah penghasil pala di Indonesia, masing-masing Aceh, Sulut, Sulawesi Tengah (Sulteng), Maluku, Maluku Utara (Malut dan Papua. Khusus untuk Sulut memiliki luasan 10,7 dari total pala di Indonesia. Sementara di Kabupaten Minut, ada 2.192 ha (hektare) atau sekitar 9,8 persen dari Sulut. Produksi pala Sulut sekitar 10,46 dari total produksi Indonesia, dan di Minutm 169 ribu ton, atau sekitar 3,47 persen dari total produksi Sulut, dengan kondisi harga yang fluktuatif, saat ini sekitar Rp60-80 ribu per kg (kilogram). Hal ini menjadi faktor perhatian untuk diperbaiki kualitasnya sesuai permintaan pasar dunia,” jelas Arnold mengutib penjelasan Direktur Perlindungan Tanaman Kementan, Dedy Gunady.

Kepala Balittbangtan BPTP Sulut, Yusuf MP mengatakan, sebagai sumber inovasi teknologi Balitbangtan BPTP Sulut siap berkontribusi pada kegiatan ini. Inovasi teknologi pendukung program ini, tinggal disandingkan dan diimplementasikan. Karena para pengkaji di Balitbangtan telah hasilkan teknologinya, tinggal dilihat yang akan disandingkan di lapangan.

Untuk inovasi teknologi dimulai dari hulu sampai hilir dan secara komperhensif diusulkan untuk dilakukan identifikasi melalui baseline survey. Dari kegiatan ini kita akan ada gambaran kondisi eksisting mulai dari peluang tantangan dan kearifan lokalnya dapat teridentifikasi. Sehingga ketika mengimplementasikan sesuai dengan kondisi lapangan dan harapan hasil selama tiga tahun rencana program ini,” jelasnya.

BACA JUGA: Tiga UPT Kementan di Sulut Jalin Kebersamaan

Leave a Reply